Published On: Sab, Jul 30th, 2016

MUADZIN KAMPUNG SEBELAH

Muadzin Kampung Sebelah

Oleh : Syafi’ul Mubarok

Seseorang memandangiku aneh dari ujung jalan itu. Aku tidak peduli apakah ia laki – laki atau bukan dan yang lebih buruk, mungkin juga makhluk astral di senja hari. Aneh, bukan karena kilatan – kilatan mata itu yang mengikuti gerak – gerikku. Tetapi keadaan kampung ini yang tiba – tiba saja berubah drastis sebelum aku meninggalkan tempat ini.

Dengan memegang tas yang melingkar di punggung, ku ayunkan langkah menelusuri jalanan kampung yang telah sepi. Ragu tapi pasti. Mungkin hanya perasaanku saja atau memang itu sudah menjadi kenyataan ketika aku merasa aneh masuk ke kampung masa kecilku.

Serasa ada yang hilang, entah itu bangunan yang mulai termakan usia, atau tiang – tiang tinggi yang mencoba merobek langit. Aku masih belum mengerti, begitu pula dengan otakku. Ketika senja hari, pastilah ada sesuatu yang menenangkan hati para manusia yang sepi. Kupandangi jam tanganku lekat – lekat, sudah telat.

Aku baru sadar, tidak ada adzan lagi yang berkumandang di tempat ini. Sepi pasti. Memang kampungku dulunya adalah bekas markas PKI. Namun semenjak tragedi 30 september kampung ini berubah drastis. Sudut – sudut kampung yang dahulunya hanya berisi ruangan – ruangan tempat hura – hura dirombak menjadi bangunan ibadah. Dan kini aku melihatnya, sebuah masjid tua yang mulai tidak terawat. Mungkin karena silau dari lampu 5 watt.

Kebingunganku berhasil membuatku lupa dengan seseorang atau entah apalah sebutan pas nya yang kini mengintip di gang jauh. Ia tidak kelihatan akibat tempat yang temaram. Hanya sorot mata tajam, apakah itu kunang – kunang. Mana ada kunang – kunang bermata tajam, atau hanya sebuah ilusi malam hari.

Seseorang tiba – tiba muncul di balik belokan ketika aku menuntaskan langkahku mengabaikan makhluk aneh di belakang sana. Aku menyebutnya makhluk agar pikiran ini puas dengan khayalan – khayalan yang menurutku tidak akan pernah bisa masuk akal. Tabrakan tak terhindarkan. Aku terhuyung, sementara ia jatuh terjerembab di atas tanah.

Aku langsung menolongnya. Satu tarikan sudah cukup kirannya membuatnya bangkit kembali. Bola mataku memicing dengan sendirinya. Bagaimana tidak, sejak dulu hingga sekarang kampungku sangatlah hemat dalam hal pemakaian listrik umum. Hanya depan balai dusun hingga depan rumah pak RT yang benderang akibat subsisi listrik pemerintah.

Sementara jalan pemukiman dibiarkan gelap gulita. Tak ada apa pun kecuali lampu 5 watt suka rela yang kadang kala berdecit menakutkan kala di tiup oleh angin. Aku melihat seseorang yang beradu badan denganku tadi. Kalau tidak salah, kami terlihat sebaya. Ia memakai baju koko, lengkap dengan peci serta sarung kotak – kotak khas orang kampung.

“Maaf, tadi aku tidak sengaja”, gumamku menyesal. Ia hanya nyengir, senyum tipis yang ku tangkap di temaramnya jalanan kampung. “Mau kemana ?”, tanyaku. Sembari membetulkan letak peci nya, ia menunjuk ke sebuah masjid tua yang tadi telah aku lewati. Ia melangkah cepat, sementara aku mengikuti di belakangnya.

Namanya Muad, cocoklah untuk padanan kata muadzin sebagai rutinitas kesehariannya. Ia bukan berasal dari kampung ini, pantas saja memori otakku tidak bisa mengenalinya. Entah itu tetanggaku dulu, bekas temanku, atau orang asing yang sengaja berkenalan denganku. Semua tercatat dengan rapi di otakku, namun tidak dengan orang yang satu ini.

Ia merupakan seorang anak dari kyai kampung sebelah. Pantaslah bila ia ditugasi untuk menjadi muadzin di kampungku. Untuk beberapa saat memang aneh. Akhirnya aku paham juga. Perasaan yang mengganjal hatiku ketika berjalan sendirian di tengah temaramnya senja, makhluk yang memandangiku di ujung gang, hingga tidak adanya adzan di kampungku. Semuanya ternyata sangat berkaitan.

Aku mendengar sendiri dari mulut Muadz, sementara ia mendengar dari ayahnya. 4 tahun yang lalu terjadi peristiwa pilu yang sebenarnya aku sendiri pun tidak ingin menceritakannya di sini. Namun bagaimana lagi, cerita ini tidak akan selesai bila hal yang tidak mengenakkan itu tidak masuk dalam kisah pendek ini.

Muadz mengawali ceritanya dengan seorang gila yang tiba – tiba saja mengamuk di masjid tua di ujung jalan itu. Malam kelabu di kampungku, empat petuah kampung ditebasnya tanpa ragu. Se isi masjid murka sembari membawa nama – nama polisi di hadapannya. Esoknya, beberapa polisi berwajah tentara datang menjemputnya. Mengikatnya dengan borgol, memasukkannya dengan paksa ke dalam mobil.

Beberapa saat kemudian, warga kampung lain menemukan mobil itu masuk ke pematang sawah lengkap dengan goresan darah dari beberapa polisi di dalamnya. Sementara orang gila itu, telah hilang entah kemana. Semenjak peristiwa itu, kampung ini menjadi semakin sepi terutama pada malam hari. Semua warga mengunci diri menghindari amukan orang gila itu.

Muadz pun semakin heran, mengapa aku bisa berani sendirian berjalan tanpa beban. Dan justru aku lah yang lebih heran mengapa ia terus – terusan adzan di kampungku, yang jelas – jelas ia sudah tahu tidak akan ada yang memenuhi panggilannya. Apalagi kalau masa maghrib seperti ini.

Ia tersenyum kecut. “Bagaimana lagi, aku sudah di wasiati untuk menjadi muadzin di kampung mu”, gumamnya pendek. Aku tidak perlu bertanya lagi, bagaimana ia berani berjalan sendirian. Rutinitas itu pun sudah ia lalui selama 3 tahun ke belakang tanpa jeda sedikit pun.

Aku pun bertanya tentang kondisi masjid yang lainnya. Hanya ada 3 yang tersisa, semuanya ramai hanya ketika Dhuhur dan Ashar. Obrolan singkat itu pun kami akhiri setelah kedua bola mata kami memandangi masjid tua yang terselimuti kegelapan. Tidak ada satu pun pelita yang menyala kecuali ada orang yang mau menyentuh saklar lampu. Dan itu ada pada diri Muadz.

Entah karena terburu – buru atau ada hal yang lain, ia menabrak tiang dekat tempat wudlu hingga jatuh terhuyung – huyung. Dan jika tidak ada aku, mungkin si orang gila lah yang akan menolongnya. Aku mencoba membuat candaan yang tidak lucu di otakku. Cukuplah untuk mencairkan keganjilan ini.

Sayup – sayup adzan terdengar menggema syahdu dari speaker, ketika aku mebasahi kulit serta wajahku dengan basuhan air wudlu. Pantaslah ia diberi naman Muadz, selain sanggup untuk melafalkan kalimat – kalimat adzan mendekati sempurna, ia juga bermanfaat bagi kampung tetangganya yang agak paranoid dengan orang gila.

Kini kondisi masjid tua itu sudah berkilauan cahaya. Tidak ada kegelapan lagi di sana. Hal itu membuat mataku melebar. Akhirnya aku bisa melihat sekujur tubuh Muadz yang berdiri dekat pengeras suara dengan jelas. Maklum, semenjak awal bertemu aku pun tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas. Dan aku percaya satu hal, bahwa ia adalah manusia bukan yang lain.

Aku tertegun ketika ia tersenyum ke arahku. Aku melihat selaput putih menutupi matanya. Itu adalah pertanda bahwa ia menderita rabun. Aku pun tak bisa membayangkan bagaimana ia harus jatuh bangun menabrak tiang masjid ini setiap malam akibat penglihatannya yang kurang sempurna. Walaupun demikian, ia tetap melangkah tanpa ragu dan yakin bahwa ia akan sampai di masjid tua ini.

Muadz tidak perlu menunggu lama untuk melafalkan iqomah, karena ia juga paham tidak akan ada yang datang menjadi makmumnya kecuali hari ini. Sedikit keajaiban terjadi, ketika makhluk bernyawa datang di belakangnya apalagi di kala senja untuk melaksanakan sholat Maghrib yang sudah kelewat telat. Dan itu adalah Aku.

Ia kemudian mengawali takbir pertama yang lantas aku ikuti dengan sepenuh hati. Aku mencoba meresapi ibadah yang satu ini, karena hampir mirip dengan meditasi. Namun gemerisik suara di luar masjid membuatku terganggu. Siapakah gerangan yang mengacaukan konsentrasi sholatku. Aku tercekat memikirkan kata – kata itu.

Bayangan – bayangan itu tiba – tiba saja terlintas di benakku. Dua mata melotot di ujung jalan tadi, hingga cerita Muadz mengenai orang gila yang berbuat onar di kampungku 4 tahun yang lalu. Semakin aku mengikuti bayangan – bayangan itu, semakin kacau sholatku. Sedikit aku merasa tenang ketika telah sampai di gerakan sujud.

Namun, ketika aku berdiri kembali dari sujudku, suara – suara itu kian mengganggu. Seseorang telah memasuki masjid tanpa permisi, aku mendengar langkahnya dengan sangat jelas. Dan kini ia benar – benar mengganggu sholatku. Berdiri di depanku, seseorang dengan rambut tak terawat, bertubuh gempal, berkulit legam, dan yang paling menganggu ia bertelanjang dada.

Ia menyeringai ke arahku dengan tatapan yang sangat mengganggu. Aku ingin muntah. Mana mungkin aku memuntahi masjid tua ini apalagi aku sedang kondisi sholat yang kini telah acak – acakan. Aku lebih tertarik kepada orang aneh itu dari pada tuhanku. Ia mengeluarkan parang dari balik punggungnya dan fokus kepada Muadz yang kini telah memimpinku sampai ke posisi duduk. Perasaan khawatir tiba – tiba saja hadir di benakku, apakah itu orang gilanya. Aku tidak tega untuk menceritakan kejadian setelahnya.

About the Author

-

Leave a comment

XHTML: You can use these html tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>