Published On: Kam, Mar 22nd, 2018

PORTAL BAMBU

Share This
Tags

Oleh : Syafi’ul Mubarok

Menjadi seorang warga di kampung yang terpencil adalah sebuah anugerah bagiku. Aku menyukuri sepenuhnya hal itu lebih dari pengharapanku tinggal di kota. Memang semenjak mang Komar hijrah ke kota metropolitan bulan puasa dua tahun yang lalu, hati ini ingin segera menyusulnya. Tentu semata – mata bukan karena aku rindu dengan mang Komar, melainkan aku iri dengan kesuksesannya.

Aku sendiri tidak habis pikir, bagaimana sosok mang Komar yang dulunya pemilik warung sederhana di desa kami. Kini banyak yang bilang telah sukses lahir batin. Lemak yang ditonjolkan di perutnya tak lebih menarik dari pada emas berlian yang terkalung di lehernya. Sudah barang tentu banyak yang penasaran tentang kisah hidup mang Komar. Selain jadi kebanggan keluarga, mang Komar kini telah menjadi panutan satu kampung.

Pernah suatu ketika, kami satu kampung mendengar ceritanya. Itu terjadi lebaran yang lalu di bekas warung mang Komar sendiri. Ngomong – ngomong tentang warung, usaha yang ditekuninya beberapa puluh tahun silam. Dengan rendah hati ia wariskan sepetak penghasilan tersebut kepada adik iparnya yang bernama Sulaeman. Mantan buruh pabrik di kampung sebelah yang kini telah gulung tikar.

Tak banyak kemajuan yang diberikan oleh Sulaeman kepada warung mang Komar. Mungkin hanya perbaikan atap yang bocor dikala musim hujan. Bahkan ketika mang Komar datang pun tidak ada pesta penyambutan atau parade meriah di warung tersebut. Hanya tersedia tikar dari bambu yang telah terurai ujung – ujungnya, lengkap dengan teko yang berisi kopi, gelas, sampai kacang yang selalu ada di warung itu. Ada yang tanya kepada Sulaeman, kenapa tidak dibuat semacam pesta penyambutan untuk mang Komar. Ia hanya mengernyitkan dahi, siapa peduli.

Aku sendiri tidak paham dengan konflik abstrak yang terjadi diantara mereka. Yang aku pedulikan sekarang adalah kisah sukses dari seorang mang Komar. Beberapa pemuda seperti halnya diriku pun mengerubungi beliau. Tentu ini adalah sebuah upaya untuk mengurangi angka pengangguran di kampung kami. Siapa tahu kami terinspirasi dengan cerita dari mang Komar. “Hidup di kota itu, enak”, begitulah mang Komar memulai pembicaraan. Kami sangat antusias sekali mendengarkan cerita dari beliau.

Gelak tawa biasa terjadi di sela – sela obrolan kami. Apalagi ketika ia mulai membahas hal – hal yang tidak pernah sedetik pun hinggap di otak kami. “Ketika akhir pekan, biasanya aku bersama rekan – rekan bisnisku pergi ke waterboom”. Kami hanya saling beradu pandangan ketika mendengar nama waterboom. Mang Komar hanya bisa tertawa geli melihat ekspresi kami. “Maksud akang, bom air ?”, salah satu dari kami mencoba memastikan dengan berbekal bahasa Inggris seadanya.

Mendengar pertanyaan tersebut, mang Komar malah tertawa. Diikuti dengan kami yang mencoba menertawakan kebodohan teman kami. Walaupun kami sendiri tidak mengerti apa sebenarnya kata asing itu. “Waterboom itu pemandian umum, di dalamnya ada seluncuran, tempat pijat, sampai air mancur. Pokoknya jauh lebih baik dari empang kampung kita”. Ia kemudian menyeruput kopi hitam yang tersedia, sementara kami saling mengangguk tanda mulai paham. Sore itu kami mendapatkan banyak cerita dari mang Komar di bawah warung yang terlindung oleh rimbunnya bambu.

Aku sendiri menebak dari beberapa manusia yang hadir. Sebagian dari mereka pasti ingin segera pindah ke kota. Tanpa memikirkan kerja apa disana. Berbeda dengan mang Komar yang kini telah menjadi seorang pengusaha real estate. Kembali istilah asing membingungkan kepala kami. Yang kami tahu hanyalah rel kereta api sisa penjajahan belanda yang berlokasi tak jauh dari kampung kami. Untuk rel estet, kami belum sepenuhnya paham. Mang Komar sendiri urung menjelaskan, takut kami malah semakin dilanda kebingungan.

Begitulah, selepas lebaran lewat mang Komar kembali ke perantauan. Sementara kami alumni seminar warung mang Komar bertekad untuk ikut merantau ke kota. Jangan menebak kami bakal bareng bersama mang Komar. Ia membawa mobil, sementara kami bertujuh tidak muat di dalamnya. Akhirnya kami naik jasa angkutan umum. Saat itu kami hanya bermodal uang seadanya dan berpegang teguh pada keyakinan. Karena orang bijak pernah berkata, yang penting yakin.

Namun, hidup di kota tidak semudah yang kami duga. Atau tidak seindah sinetron yang kami tonton ramai – ramai di balai dusun setiap malam. Karena realitanya, kota metropolitan itu keras bagi para pendatang. Apalagi hanya modal seadanya seperti kami. Baru tiga hari merasakan pengapnya kota, uang kami mulai menipis. Tidak ada yang dapat kami lakukan kecuali berpindah dari satu musholla ke musholla yang lain. Pernah kami disangka maling ketika masuk kompleks perumahan malam – malam lengkap dengan hadiah pukulan dari satpam.

Aku sendiri mulai membayangkan bagaimana bahagianya kami di kampung ketika malam datang. Apalagi ada pertandingan sepak bola, balai dusun ramai dipenuhi oleh warga. Sementara di kota, sepi, tidak ada saling sapa. Semua terasa hambar. Tidak semanis di bibir mang Komar. Kami pun tidak mengerti di kota sebelah mana mang Komar tinggal. Saat itu juga, kami mulai mencaci udara perkotaan dan ingin segera pulang ke kampung halaman. Kampung bambu namanya.

Aku mulai membayangkan sejuknya udara kampung yang tertutup oleh rimbunnya bambu. Tidak ada kosa kata lain kecuali pulang di otakku. Aku merasa bersalah telah memecah tembok larangan orang tuaku untuk pergi ke kota. Namun dari banyaknya rasa bersalah yang kami alami, Sani lah yang terlihat sangat murung. Bagaimana tidak, ia rela menjual dua ekor kambing milik neneknya untuk ongkos ke kota. Ia bilang ke neneknya yang tuna netra, kambing yang semenjak kecil di rawat oleh neneknya akan diberi nutrisi di luar kandang.

Bukan malah nutrisi yang diberikan, melainkan tajamnya pedang penyembelihan. Karena Sani menjual kambing neneknya ke tukang begal di pasar pagi. Kini ia terlihat sangat menyesal. Kami selaku kawan seperjalanan hanya bisa mengutip omongan mang Komar. Hidup ini keras, jadi siapkan banyak kuota kesabaran. Namun, yang terpenting dari itu semua adalah, perbekalan kami benar – benar habis. Tidak ada lagi rupiah yang tersisa untuk ongkos pulang.

Akhirnya kami mencoba untuk mencari tumpangan pulang. Agak melelahkan memang. Di malam hari yang dingin akibat gerimis hujan, sementara perut kami terlalu lama keroncongan akibat tidak makan. Kami harus berdiri di seberang jalan di sisi luar kota sekedar mengais iba para pengendara. Lelah telah tertutup oleh keinginan kami untuk pulang.

Entah mengapa disaat itulah aku merasakan pertolongan Tuhan benar – benar nyata. Biasanya aku melihat pertolongan-Nya hanya di layar kaca. Yang mana terkesan dibuat – buat oleh sang sutradara. Namun, kami semua merasakan hal itu sebagai kenyataan. Tanpa kami duga, truk bermuatan bambu pun berhenti. Sorot lampu depan mobil membuat kami samar – samar melihat sang pengendara.

 

Namun, Sani yang dekat dengan pintu pengendara memberi instruksi untuk naik setelah berbincang – bincang singkat dengannya. Tanpa pikir panjang, kami langsung naik di belakang diantara tumpukan bambu. Aku sempat khawatir dengan mitos orang – orang kampung, bahwa portal bambu akan terbuka melalui truk yang membawa tumpukan bambu. Aku tidak peduli, rasa capekku telah mengabaikan mitos tersebut. Entah apa yang terjadi setelahnya. Menurut cerita warga, aku ditemukan di samping empang kampung berbulan – bulan lamanya setelah kepergianku ke kota. Sementara teman – temanku terkapar tidak bernyawa di bawah rimbunnya bambu yang tumbuh di sekitaran empang.

About the Author

-

Leave a comment

XHTML: You can use these html tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>