Published On: Kam, Jan 4th, 2018

KETIKA TONO BERJUMPA HANTU

Share This
Tags

                                                ilustrasi hantu

Oleh : Syafi’ul Mubarok

Aku melihat Tono pucat pasi di kala istirahat. Dan ini bukan yang pertama kali. Cukup mudah bagiku melihatnya. Karena masa istirahat adalah masa dimana seluruh teman – temanku tersenyum. Hanya Tono saja yang memiliki raut berbeda. Entah apa yang membuatnya seperti itu. Padahal ia bukan tipikal orang yang tertutup. Hanya ketika istirahat saja ia seperti itu.

Sani teman sekelasku juga penasaran apa penyebab wajahnya menjadi demikian kusut. Anehnya ketika guru Matematika kami memberi pekerjaan rumah 3 lembar, ia satu – satunya orang yang tidak protes. Jangan mengira dia adalah murid kesayangan guru. Ridwan sang bintang kelas pun protes mengenai pekerjaan rumah yang semena – mena tersebut. Rasa penasaran itu benar – benar membuatku lapar, ditambah kelas Matematika yang memusingkan.

Aku pun mengajak Sani ke sekedar untuk melepas penat dan mengisi perut yang telah lama keroncongan. “Rumus yang dikasih guru kita membuatku mual”, ungkap Sani di tengah perjalanan ke kantin. “Tapi aku lebih penasaran dengan Tono”, aku terus melihat ke sekeliling siapa tahu ada Tono lewat atau ada kejadian yang menjelaskan sebab musabab Tono. Sembari mendengar Sani mengoceh, aku terus memperhatikan sekitar. Namun ia belum juga muncul.

“Menurutmu, Tono kenapa ya kira – kira ?”, aku berhasil memancing penasaran Sani untuk memikirkannya juga. “Laper ah”, aku langsung menyantap makanan yang ada di depan meja. Sementara Sani masih memainkan kuah bakso dengan alasan masih panas. Bagiku, makanan panas atau dingin adalah sebuah pilihan. Namun, lapar tidak bisa memilih mana panas dan dingin. Apalagi ditambah stres ganda gara – gara Tono dan Matematika.

Waktu istirahat berjalan sangat cepat. Ketika kawan – kawan kami di meja lain bercanda sembari menikmati waktu idaman para siswa, kami malah berdiam diri sembari semakin frustasi memikirkan Tono. Hingga bel masuk pun berbunyi. Aku memandang Sani yang masih dipenuhi dengan tanda tanya sembari memainkan peralatan makan. “Ayo”, aku menariknya untuk segera masuk kelas. Karena selepas ini adalah guru killer yang tak segan menghukum siswa yang terlambat masuk kelasnya.

Di tengah persimpangan, aku melihat seorang yang dari tadi aku cari. Aku pun menarik dengan keras tangan Sani yang berlari di depanku hingga ia terjungkal. “Apa”, teriaknya marah. Jari telunjukku langsung kuarahkan ke Tono yang berada di ujung lorong. “Ayo”, ajakku. “Kamu gila ?, jam guru killer bro”. Lebih baik penasaran terobati dari pada terkurung di jam killer. Aku memberi isyarat kepadanya untuk membuntuti Tono di belakangnya.

Lorong sekolah kami tergolong simpel. Tidak ada ornamen atau  pun hiasan yang dibanggakan. Langit – langitnya mungkin sudah bosan melihat anak sekolahan bertumbuh kembang di bawahnya. Dan apabila tuhan memberi tembok mulut, mungkin mereka akan mencaci maki murid yang sengaja menggambarinya. Sudah berkali – kali staff sekolahan melakukan pengecatan tembok tersebut, namun tangan – tangan jahil tetap meraba tembok yang selalu menderita.

“Kayaknya dia ke belakang sekolah”, Sani memicingkan mata ke kejauhan. Langkah jalan kami langsung berubah menjadi pelarian ketika Tono berlari meninggalkan kami. Mungkin ia sadar ada 2 manusia kepo yang membuntutinya, sekedar melihat rahasia besarnya. Benar saja, ia menghilang dibalik gang kelas menuju belakang sekolah.

Jangan membayangkan kondisi belakang sekolah kami ada lapangan yang luas, ditambah ada banyak pohon. Dan tak lupa banyak canda tawa terjadi disana kala upacara atau jam olahraga. Karena belakang sekolah kami hanyalah lorong gelap yang dibatasi oleh tembok tinggi. Batas dengan tanah milik penduduk. Entah karena aku terlalu lama menghayal atau memang telat, aku sudah melihat Tono terkapar tak sadarkan diri di lorong itu.

Lorong yang penuh sarang laba – laba ditambah kayu – kayu sisa pembangunan yang berserakan. Aku seolah masuk ke alam yang baru sementara Sani teringat dengan novel horor miliknya. Sempat teringat cerita – cerita konyol tak masuk akal tentang keganjilan lorong ini. Peduli amat. Gumamku mencoba menguatkan kaki – kaki yang bergetar. Sempat saling dorong antara aku dan Sani siapa yang akan menolong Tono. Berkat hukum gender, aku pun harus mengalah dan mendekati Tono. Namun, selagi aku mendekati Tonoi ia harus menyusun beragam alasan agar kita tidak berakhir konyol di ruang guru killer.

Aku langsung menggendong Tono meninggalkan lorong itu. Sempat terdengar suara – suara di kiri kanan. Aku pun berharap earphone melekat di telingaku agar tidak perlu mendengar omongan orang lain yang cenderung menjatuhkan dan menyesatkan. “Sudah punya ?”, ucapku sembari berjalan di samping Sani. Belum. Aku mengharapkan kekuatan gendernya berhasil mengumpulkan banyak alasan untuk melindungi kami bertiga. Tentunya dari keganjilan guru killer yang aku membayangkan sekarang tengah mencari 3 muridnya yang hilang di kelasnya.

Sesampainya di kelas, Tono langsung tersadar ketika balsam di oleskan di wajahnya. Ide ini milik Ridwan, anak terpandai di kelas kami. Kami pun beruntung guru killer tidak masuk hanya meninggalkan selembar tugas. Seperti sebuah kebiasaan, semua dibebankan ke Ridwan baik pemecahan lengkap dengan jawaban. Kami laksana mesin foto copy berjalan yang menunggu segala jawaban Ridwan. Satu kata yang langsung keluar dari mulut Tono, aku melihat hantu. Sontak seluruh kelas menjadi bergemuruh.

Gimana wajahnya ?, apa hantu itu ilmiah ?, ada tanda – tandanya nggak ?, beragam pertanyaan mulai menyerang Tono yang merasakan pedih di mata. Bukan karena tidak bisa menjawab pertanyaan, melainkan olesan balsam di pelupuk matanya terlalu banyak. Di kelas kami, hanya beberapa saja yang percaya hal – hal mistis. Sisanya selalu mengedepankan logika. Terutama Ridwan. “Ton, gimana bentuknya ?”, tidak berbentuk. “Ah masa, kata kakekku menyerupai manusia, bohong ya kamu”, kata teman di ujung ruangan. “Apa hantu memiliki bau atau aroma ?”, satu lagi pertanyaan konyol yang memaksa otak kami berpikir. “Ada baunya seperti jengkol”, ucap Tono singkat.

Mungkin ia baru saja makan jengkol atau bisa jadi hantu itu adalah hantu penunggu pohon jengkol. Salah seorang temanku membuat kesimpulan konyol. Mana ada pohon jengkol di belakang sekolah. Aku mencoba menyangkalnya. “Apa hantunya cantik ?”, pertanyaan lain yang membuat diskusi kali ini semakin menarik. Sebelum Tono menjawab aku langsung berkata, “Iya cantik banget kaya bintang film, baiknya lagi langsung saja lihat di lorong belakang sekolah”.

Begitulah kegeraman yang merasuki. Bagaimana bisa, seorang yang baru saja terkena musibah malah mendapatkan pertanyaan – pertanyaan konyol seputar eksistensi hantu. Dan aku yakin pasti sebagian temanku sudah menyalakan statusnya tentang hantu. Mungkin aku akan memukul temanku yang justru selfie di depan Tono yang masih belum tersadar sebelumnya. Beruntung tidak ada korban keganasan pukulanku. Aku pun semakin tidak peduli ketika banyak dari temanku yang berbondong – bondong ke belakang sekolah.

Sudah barang tentu mereka penasaran dengan apa yang tengah dialami Tono. Sementara teman lelakiku banyak membawa buku catatan. Dengan niatan untuk meminta tanda tangan dari artis yang akan ditemuinya. Mereka berharap hantu Michael Jackson akan muncul di lorong kumuh sekolah kami. Beberapa menit kemudian, aku mendengar kabar bahwa terjadi pingsan berjama’ah di belakang sana. Aku pun tidak peduli, cukup duduk sembari menyeruput es teh entah milik siapa. “Pasti mereka semua bau jengkol”, umpatku dalam hati.

About the Author

-

Leave a comment

XHTML: You can use these html tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>