Published On: Jum, Des 29th, 2017

PELANGI MASAKAMBING, MOZAIK PENGABDIAN DI PULAU TERDEPAN

Oleh : Moh. Wahyu Syafi’ul Mubarok **

“Indonesia adalah negara kepulauan, maka bantu kami untuk menjaganya”, begitulah kata Susi Pudjiastuti ketika mengisi kuliah umum di Universitas Airlangga beberapa waktu yang lalu. Dengan banyaknya pulau yang dimiliki, praktis Indonesia memerlukan kontribusi nyata dari para pemudanya untuk memberdayakan pulau – pulaunya. Salah satunya adalah melalui Ekspedisi Nusantara Jaya 2017. Sebuah program dari Kementrian Koordinator Kemaritiman. Dengan tema utama adalah melakukan pengabdian di pulau – pulau yang tergolong 3T (terdepan, tertinggal, dan terluar). Pada tahun 2017 ini, Universitas Airlangga mengutus 25 mahasiswa untuk mengikuti program tersebut, dan saya termasuk di dalamnya. Total ada 3 pulau yang tim ENJ Unair tuju, yaitu pulau Mandangin di kabupaten Sampang, serta pulau Masalembu dan Masakambing yang termasuk ke dalam kabupaten Sumenep.

Pengabdian tersebut kami lakukan selama hampir 3 minggu, dimulai pada tanggal 25 September hingga 14 Oktober 2017. Program – program yang kami jalankan selaras dengan misi SDGs (Sustainable Development Goals) tahun 2030. Dengan menitik beratkan pada pendidikan, sosial, dan ekonomi. Di bidang pendidikan, kami menggelar kelas inspirasi, kelas kejujuran, kelas kebangsaan, sampai rumah baca di segala tingkatan pendidikan. Sementara di bidang sosial, kami berkontribusi dalam pembentukan Karang Taruna hingga konservasi kakatua Jambul Kuning yang spesiesnya tinggal 24 ekor di seluruh dunia. Dan di bidang ekonomi, kami melakukan optimalisasi terhadap beragam potensi wisata dan hasil alam yang dimiliki. Guna diubah menjadi barang yang bernilai jual.

Banyak pengalaman yang saya dapatkan selama pengabdian di pulau Masakambing. Yang barangkali tidak akan ditemukan di bangku kuliah. Mulai dari merasakan sulitnya mendapatkan sinyal, listrik yang hanya ada beberapa jam setiap malam, sampai keseharian jalan kaki menembus belantara hutan pulau selama hampir satu jam. Dengan tujuan utama bertemu dengan anak – anak pulau, sembari terus menyalakan lilin harapan masa depan mereka. Keterbatasan bukan menjadi alasan utama untuk mereka terus berhenti tersenyum. Walaupun guru yang mereka miliki hanya dua, ditambah mereka harus rela bila 6 kelas diubah menjadi 2 kelas campuran.

Aku bersyukur, ketika momen sumpah pemuda tahun 2017 ini telah ku lalui dengan bangga. Karena telah membuat mozaik pengabdian di sebuah pulau terdepan, yaitu pulau Masakambing. Sebuah kekayaan negeri Pelangi, ibu pertiwi.

 

**

Biodata

Nama : Moh. Wahyu Syafi’ul Mubarok (Warga Desa Sendangagung Kec.Paciran Kab.Lamongan)
Pekerjaan : Mahasiswa Universitas Airlangga
Keterangan : Peserta Ekspedisi Nusantara Jaya 2017

 

 

About the Author

-

Leave a comment

XHTML: You can use these html tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>