Published On: Kam, Des 21st, 2017

KETAHANAN EKONOMI DI BALIK PRODUKSI BATIK SENDANG

                    Foto : wartabuana.com

Sifwatir Rif’ah, SE, MM*

 Minggu Ceria (mince) di Alon-alon Kota Lamongan pada awal Desember 2017 lalu menampilkan 100 pembatik dari Sendang. Ini lebih dari sekedar parade kebudayaan yang disuguhkan kepada masyarakat luas dari desa kelahiran, sebab sebagai akademisi yang setiap hari terlibat dalam proses belajar dan mengajar tentang ilmu ekonomi di kampus, peristiwa tersebut sekaligus menjelaskan guliran ekonomi dari proses produksi Batik Sendang Lamongan. Proses produksi batik yang sepintas seperti kegiatan ekonomi normal pada umumnya, ternyata di dalamnya mengandung kekuatan pertahanan ekonomi masyarakat yang melekat. Pantas saja, meski industri kerajinan perhiasan emas yang menjadi primadona di desa Sendang selama bertahun-tahun lalu terpuruk pada krisis moneter sebelum tahun 2000, kesehatan ekonomi masyarakat tetap bertahan dan salah satunya berkat proses produksi batik yang menciptakan imunitas.

Daya tahan ekonomi masyarakat yang tumbuh dari kegiatan proses produksi batik ini secara alamiah tercipta dari system produksi berantai yang sudah berlangsung sejak zaman kakek buyut pendahulu. Kekuatan pertahanan ekonomi itu terus menguat justru karena proses produksi batik masih mempertahankan pola tradisi lama dari rumah ke rumah para pihak terkait. Hal itu karena untuk menghasilkan satu lembar kain batik tulis diperlukan sentuhan terampil beberapa ahli mulai dari memroses kain agar siap dibatik, menggores pola di rumah tukang blat, pengisian di rumah pembatik, pewarnaan di rumah tukang warna, seterusnya hingga penyelesaian akhir sampai penjualan di rumah saudagar, rumah butik, showroom, dan trader independen yang tersebar di pasar-pasar sekitar. Semua proses dari hulu sampai hilir tersebut tidak dikerjakan di satu tempat tertentu atau satu titik workshop karena  kegiatan membatik di Sendang bukanlah aktivitas pabrikan tapi mayoritas adalah kegiatan ‘indoor’ yang dikerjakan sambil melaksanakan tugas kerumahtanggaan.

Proses hingga menjadi sebuah batik dari A to Z seperti ini menciptakan rantai kerja sama antar anggota masyarakat mulai dari pedagang penyedia keperluan batik seperti kain polos, malam atau lilin, canting, pewarna dan lainnya, kemudian para pembatik dan pekerja terkait lain hingga saudagar atau trader yang meneruskan produk kepada pembeli. Mekanisme ini pula yang kemudian membentuk masyarakat batik turun temurun dari generasi ke generasi. Seorang saudagar batik hari ini biasanya masih keluarga saudagar (trader) generasi sebelumnya. Demikian juga seorang ahli pewarnaan batik, seorang pembatik, seorang ahli pola juga berasal dari keluarga yang menekuni keahlian serupa. Benar, bahwa belakangan lahir pelaku ‘start up’ dan ahli-ahli lain yang berproses dari generasi terbarukan. Semua berproses secara alamiah namun tidak sedikit juga yang yang berporos pada modalitas sebelumnya.

Gambaran proses produksi tersebut oleh para ahli dinamakan ‘the unique of home industry’ ketika dari rumah-rumah penduduk menghasilkan suatu komponen atau satu produk tertentu dan baru menjadi produk utuh ketika disambungkan. Ini sedikit berbeda dengan kampung industri di Jepang atau di Kabupaten Tegal Jawa Tengah yang memproduksi mur, baut dan komponen kebutuhan otomotif lainnya. Di Sendang hampir semua rumah mengeluarkan hasil produksi antara lain bordir busana-hijab, perhiasan emas-perak, dan tentu saja batik. Sebelum krisis ekonomi tahun 1997, keadaan rumah-rumah di Sendang terkenal sebagai kampung industri hingga sehari-hari seperti sedang digelar orchestra dari deru bunyi mesin dan hentakan palu dari pagi hingga malam hari. Di bagian depan atau samping rumah biasanya ada besali tempat para pemuda dan bapak-bapak merajin perhiasan emas-perak, di sisi lainnya para pemudi menjahit atau membordir jilbab-busana dan di bagian belakang atau dapur umumnya ibu-ibu dan nenek-nenek sibuk membatik.

Pada masa itu, anak-anak juga belajar menjadi bagian dari kampung industri ini sepulang sekolah sebelum berangkat mengaji di sore hari. Antara lain ada yang di pembuatan dompet untuk padang emas. Ada juga yang mulai belajar menjadi perajin emas dan penjahit. Namun bersamaan dengan kemajuan teknologi industry, kerajinan emas penduduk digantikan mesin selep lalu harga tidak stabil hingga banyak toko emas yang tutup diikuti usaha dompet. Jahit dan bordir busana-jilbab juga mengalami pergeseran setelah datang mesin-mesin bordir berkomputer. Yang justru naik daun adalah industri batik tulis, batik cap dan kain printing motif khas batik Sendang.  Boleh dikatakan industri batik mendapatkan limpahan keberkahan atau ‘blessing’ dari masa gelap resesi ekonomi. Pada saat tenaga kerja sektor lain lepas, industri batik seolah menjadi jaring pengaman setia. Tidak sedikit tangan-tangan terampil pengrajin perhiasan emas harus beralih ke sawah menjadi buruh tani, ke laut menjadi nelayan dadakan dan ada juga yang beralih ke industri jilbab dan batik.

Pada industri batik akhirnya sebagian tergiring. Pemuda dan pemudi beramai-ramai terjun menjadi bagian dari  mata rantai proses produksi yang memang membutuhkan banyak bidang keahlian. Mereka berproses hingga tidak saja bergelut dalam proses produksi namun tidak sedikit yang akhirnya terjun menjadi pedagang.

Meski saat ini sudah berkembang pesat, Batik Sendang belum juga dikerjakan secara pabrikan di satu tempat mulai dari persiapan awal hingga selesai hingga pemasarannya seperti di Solo, Yogyakarta dan Pekalongan. Bahkan dalam sejarah batik di Lasem pada masa kolonial Hindia- Belanda  banyak berdiri pabrik-pabrik batik tulis dengan ratusan tenaga kerja. Mereka bekerja sebagaimana pekerja pabrik umumnya dengan jam kerja dan pembagian kerja dari hulu hingga hilir dan hasil produksinya diketahui tersebar hingga ke mancanusa dan mancanegara. Proses pembuatan Batik Sendang Lamongan tidak mengikuti pola pabrikan justru bertahan dan menjadi pahlawan penyelamat ekonomi masyarakat dengan cara bertahan dalam pola tradisinya. Proses produksi Batik Sendang makin menunjukkan otensitasya dengan menjadi industri ‘rumahan’. Hal ini diyakini justru dapat menguatkan ketahanan ekonomi masyarakat sebagai dampak positif sebaran pembagian kerja.

Perjalanan panjang proses produksi demikian ini juga secara bersamaan menjadi pembasmi efektif atas monopoli atau dominasi pihak yang tumbuh kuat sendiri atau dikuatkan oleh situasi. Sampai hari ini proses produksi masih seperti doeloe: Kain putih polos dan berbagai jenis kebutuhan terkait sepeti lilin/malam disediakan di beberapa rumah toko yang juga bertumbuhan. Kain disiapkan kemudian dibawa ke rumah tukang blat, lalu dibatik di rumah tukang batik. Selanjutya diwarnai di rumah tukang warna hingga kain putih menjadi batik tulis yang siap dipasarkan.

Untuk pemasaran umumnya ada tiga model. Pertama, batik dibuat berdasarkan pesanan ‘user’ langsung kepada pembatik. Seorang pembatik kemudian mencari kain yang sesuai dengan pesanan ke rumah toko kain dan peralatan batik, kemudian dibawa ke tukang blat seterusnya hingga selesai. Kain batik kemudian langsung diserahkan kepada pemesan atau ‘user’. Kedua, saudagar batik yang biasanya memiliki banyak tukang batik menyerahkan pekerjaan pembatian berbagai jenis, setelah selesai disetorkan kembali ke saudagar untuk dimasukkan ke ‘showroom’ di rumahnya atau rumah butiknya. Ketiga, para pembatik mengerjakan batik tidak berdasarkan order, kemudian setorkan kepada pedagang (trader) yang mengepul (folder) atau ditawarkan langsung kepada pembeli atau dilepas ke pedagang di pasar.

Tiga pola alur pemasaran tradisional tersebut kini bertambah lagi dengan model pemasaran online yang sedang marak. Seorang pembatik dapat menjual langsung hasil kerajinannya secara online, demikian juga saudagar dan pedagang selain membuka ‘showroom’ untuk ‘direct selling’ secara ‘offline’ juga membuka pemasaran online.

Demikianlah proses produksi dan pemasaran Batik Sendang Lamongan ini berlangsung melalui mata rantai industri dari rumah ke rumah sehingga dapat dikatakan bahwa satu lembar batik merupakan produk berjamaah para tangan terampil yang bahu membahu dari pintu ke pintu rumah produksi masyarakat. Pola ini terbukti menumbuhkan ketahanan ekonomi masyarakat dan berhasil mereduksi munculnya monopoli dan dominasi satu pihak sehingga terjadi distribusi pekerjaan yang menguntungkan banyak kalangan. Batik Sendang Lamongan tidak saja pantas diparadekan sebagai sebuah produk budaya luhur tetapi harus dikuatkan oleh Pemerintah Daerah karena di dalamnya mengandung kekuatan ketahanan ekonomi masyarakat.

*Penulis adalah dosen pada Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam IAI TABAH Kranji Paciran Lamongan

About the Author

-

Leave a comment

XHTML: You can use these html tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>