Published On: Kam, Jul 20th, 2017

DESA SENDANG DALAM LIPATAN SEJARAH

cover artikelOleh : Sifwatir Rif’ah, SE, MM*

Ketertarikan menelusuri lebih lajut tentang desa Sendang pertama kali muncul ketika membaca viral diskusi di media sosial tentang nama wilayah Sendang kuno, yaitu Amintuno atau Patunon yang dibuka seorang ahli numismatik lulusan Singapore Mint & Notaphily Sofyan Sunaryo dan budayawan Lamongan Viddy Daery. Selain karena pernah mendengar nama yang sedang dibicarakan, penulis dalam waktu bersamaan juga sedang membaca sejumlah literatur sejenis antara lain yang terbaru adalah buku karangan Kiai Baqir Hasan Syarqowi ‘Sejarah Desa Sendang dan Cerita Rakyatnya’ sehingga tergerak merekonstruksi desa kelahiran ini dalam tulisan sederhana berikut.

Setelah membaca beberapa skripsi, tesis, jurnal dan buku-buku terkait desa Sendang, penulis menyimpulkan bahwa desa Sendang termasuk salah satu desa tua dan bersejarah sejak zaman kejayaan Kerajaan Majapahit atau lebih dari 500 tahun lalu. Bersama desa-desa di kawasan Lamongan lain, Sendang menyimpan prestasi dan prasasti bersejarah. Dalam bedah buku yang dihelat Yayasan Kertagama (Jakarta) dan Universitas Airlangga (Surabaya), Guru Besar Arkeologi Universitas Indonesia Dr Ninie Susanti membuktikan bahwa dari 33 prasasti peninggalan kerajaan Kahuripan yang didirikan Prabu Airlangga (abad XI),[1] 19 prasasti ditemukan di wilayah Lamongan, selebihnya di Jombang, Mojokerto, Sidoarjo, Malang dan Pasuruan.[2] Demikian juga Kerajaan Majapahit mewariskan 43 prasasti di wilayah Lamongan sebagai bukti eksistensi daerah menghadap laut yang dikepung wilayah Mojokerto, Jombang, Tuban dan Gresik ini.[3] Bumi Lamongan menyimpan sejarah panjang peradaban Nusantara yang melegenda hingga saat ini dan itu berarti seiring seirama masyarakatnya juga berada dalam pusaran peradaban terbaik pada zamannya.

Ada dua daerah istimewa di wilayah Lamongan dengan status swatantra (otonom) karena kontribusi ekonomi dan pertahanan yang signifikan bagi kerajaan Majapahit,[4] yaitu Biluluk di Selatan (Ngimbang) dan Tenggulunan di Utara (dulu masuk wilayah kecamatan Paciran, sekarang di kecamatan Solokuro).[5]

Hal tersebut sekali lagi menegaskan bahwa penduduk yang mendiami wilayah ini sudah istimewa sejak ratusan tahun lalu, termasuk penduduk desa Sendang  yang berdekatan dengan Tenggulunan,[6] berada di sebuah lembah (lebak) dan bukit menghadap ke laut Paciran, berdekatan pelabuhan kuno Tuban.  Posisi desa Sendang yang dikenal hari ini dulu berada di padukuhan Amintuno atau Patunon yang terdiri dari daerah bukit (Sendangduwur) dan bagian lembah atau lebak (Sendangagung) dan disebelah barat daerah lebak hingga hari ini terdapat daerah yang disebut dengan Alas Tunon, sekitar lapangan sepak bola Kopen Sendangagung.[7] Kawasan ini sudah disebut-sebut dalam beberapa cacatan klasik sejarah Nusantara, terutama terkait fungsi daerah ini sebagai mandala atau pecantrikan (pesantren) beserta upacara keagamaannya seperti kremasi (patunon) Hindu pada zaman Majapahit.[8]

Sebagai daerah pecantrikan, di padukuhan Amintuno banyak dihuni tokoh-tokoh agama pelaksana upacara keagamaan kremasi, pada cantrik mandala atau serupa santri pesantren dan masyarakat sekitar bukit umumnya memiliki keahlian atau ketrampilan khusus. Sebelum dikenal luas sebagai kampung batik dan bordir seperti saat ini, Desa Sendang lebih dahulu terkenal sebagai kampung para pengrajin perhiasan emas.[9] Jauh sebelumnya, penduduk padukuhan atau desa ini dikenal sebagai pengrajin senjata untuk pertahanan kerajaan Majapahit, bahkan di Sendang juga tinggal sejumlah ahli keris atau empu-empu kebanggaan Majapahit. Hal ini dibuktikan di komplek pemakanan Sunan Sendang terdapat makam Empu Supo Anom atau Empu Sendang pencipta Keris Nogo Sosro Sabuk Inten luk 13 dan keris ginje yang masih tersimpan di museum nasional.[10] Supo Anom adalah putra Empu Supodriyo Mandrangi,  ahli keris paling legendaris sepanjang sejarah Majapahit yang kemashurannya seterkenal Empu Gandring zaman kerajaan Singosari. Empu Supo adalah adik ipar Sunan Kalijogo, putra bupati Tuban atau Tumenggung Wilatikta. [11] Petilasan Empu Supo tersebar di sepanjang jalur pantai utara Jawa, bahkan tidak jauh dari Sendang terdapat Goa Surowiti, petilasan Sunan Kalijogo dan Empu Supo yang kini dijadikan tempat wisata.

Bukti lain bahwa desa Sendang pernah menjadi pusat pembuatan senjata kerajaan adalah masih adanya ahli-ahli keris hingga tahun 1970-an sebagaimana dicatat seorang tokoh dari desa Sendang yang kini tinggal di Kabupaten Malang, bahwa hingga tahun 1970-an, masih dijumpai ahli keris dan besali tempat penempaan logam sebelum akhirnya beralih sepenuhnya menjadi tempat pengolahan perhiasan emas. [12]  Menurut budayawan nasional asal Lamongan Viddy AD Daery,[13] wilayah pantai utara Jawa sejak zaman Kahuripan (Airlangga) dan Majapahit selalu menjadi benteng serbuan musuh dari utara. Oleh karena itu didirikan kota pelabuhan Tuban sebagai pintu perdagangan sekaligus pertahanan laut.[14] Di tengah kedua benteng itu, desa Tenggulunan menjadi pemasok prajurit sementara kampung Sendang menjadi pemasok senjata.[15]

Kesimpulan budayawan Viddy tentang desa Sedang sebagai pusat pembuatan senjata untuk pertahanan Kerajaan Majapahit itu berdasarkan folklore sesepuhnya di Sendangduwur dan serpihan data di balik catatan sejarah yang ia kumpulkan selama meneliti sosok Mahapatih Gajah Mada yang juga dari Lamongan.[16] Di desa Sendang yang berbukit ini, masyarakatnya sejak semula memang kebanyakan bukanlah kelompok masyarakat agraris tetapi sebagai perajin. Saat kerajaan Majapahit surut, pengiriman senjata terhenti, produktivitas penduduk dalam pembuatan senjata menurun.

Setelah Majapahit runtuh, pusat kekuasaan berpindah ke Kasultanan Demak Bintoro yang mewarisi kekuasaan sepanjang pantai utara Jawa, termasuk Giri Kedaton dan Sedayu yang membawahi padukuhan Amintuno, keterampilan masyarakat dalam membuat alat pertahanan dan pertanian berangsur beralih ke industri kerajinan perhiasan emas. Cerita yang beredar di masyarakat tentang keahlian masyarakat Sendang dalam pengolah perhiasan emas memang dihubungkan dengan Sunan Sendang yang seorang bangsawan keturunan Raja Majapahit Brawijaya dari pihak ibu (cucu Tumenggung Sedayu). Sunan dikisahkan membawa ahli-ahli perhiasan dari pusat kota untuk mengajarkan masyarakat yang sebelumnya sudah memiliki ketrampilan olah logam sebagai pembuat senjata kerajaan. Pendapat lain dinyatakan Kiai Baqir Hasan, bahwa muasal tradisi kerajinan emas di Sendang dibawa oleh Wirokencono pada tahun 1784 dari Kota Gede Yogyakarta. Pendapat ini berdasarkan bukti makam Wirokencono di komplek makam Sunan Sendang dan asumsi bahwa penyebutan nama-nama peralatan dan hal terkait lainnya terjadi kemiripan dengan yang ada di Kota Gede.[17]

Menyusul surutnya Majapahit, gerak dakwah Islam berkembang pesat berkat usaha Walisongo, antara lain keluarga Sunan Ampel di Surabaya dan santri-santrinya.  Di Tuban ada Sunan Bejagung, paman Sunan Ampel (Mbah As’ari dan menantunya yang masih bangsawan Majapahit) yang hingga hari ini makamnya masih ramai dikunjungi, ada Maulana Ibrahim Asmorokondi yang disebut-sebut sebagai ayah Sunan Ampel,  dan ada putra Sunan Ampel, yaitu Sunan Bonang. Di Lamongan ada putra Sunan Ampel lainya, yaitu Raden Qosim Sunan Drajat. Tidak jauh dari desa Drajat ada Raden Nur Rahmad Sunan Sendang, cucu Tumenggung Sedayu dari garis Ibu yang masih bersambung ke Raja Majapahit Brawijaya.[18] Sebagai bangsawan, Raden Nur Rahmat kemudian diambil menantu Pangeran Ngrenget Kudus. Istri Raden Nur Rahmat yang melewati masa remajanya di Kudus dan Jepara disebut-sebut membawa tradisi membatik di lingkungan padukuhan Amintuno yang berlatar tradisi Majapahit kemudian berangsur menjadi masyarakat baru dengan nilai islami.[19] Proses islamisasi di padukuhan Amintuno berlangsung cepat dan serentak berkat dakwah Sunan Sendang, seorang ulama juga bangsawan yang semua titahnya jadi panutan rakyat.

Wilayah padukuhan Amintuno atau Patunon itu di kemudian hari menjadi desa Sendangagung dan Sendangduwur yang melahirkan Batik Sendang Lamongan (BSL), satu di antara sekian batik peninggalan leluhur ini dianggap antik karena paduan nilai tradisi yang islami memancarkan eksotisme alami. Di desa Sendang ini juga pernah Berjaya industri kerajinan emas hingga memeroleh anugerah Upakarti (diterima Haji Husnan Sendangduwur pada tahun 1991), demikian juga dari batik tulisnya mendapat Upakarti Presiden RI (diterima Hj Sumikah Ishaq tahun 1992) dan dari batik  pula nama desa Sendang tercatat sebagai Juara II Lomba Design Batik Nasional yang diraih Tetty Indah Setuli. Selain itu, juga berkembang industri busana muslimah dan border berbasis computer yang penting dalam menggulirkan sirkulasi ekonomi rakyat.

Meski padukuhan Amintuno atau desa Sendang telah termodernisasi, memasuki desa ini masih dapat merasakan hawa ‘tempo doeloe’ ke suasana masa silam ketika desa-desa zaman Majapahit tampak dipagar gapura bentar dari bebatuan. Pengaruh Majapahit dan Islam  terang berpadu dengan harmonis seperti tampak dari nisan-nisan berlogo ‘suryalencana’ Majapahit, bangunan megah gapura bentar dan sayap paduraksa di sekitar pemakaman Masjid Sunan Sendang. Fakta-fakta sejarah yang terselip di desa Sendang tersebut memang belum sepenuhnya terbuka karena masih dalam lipatan yang perlu dikaji dan direkonstruksi secara ilmiah dan alamiah. Tulisan ini diharapkan menjadi pemantik usaha lain yang lebih benderang.

*Penulis adalah Dosen di Institut Agama Islam Tarbiyatut Thalabah, Kranji Paciran Lamongan

[1] Daerah Lamongan sebelum masa Islam berada di bawah pemerintahan kerajaan Kahuripan berdasar prasasti Sendang Rejo yang menyebut nama moksa Airlangga i hino Sri Sanggramawijaya berangka tahun 965 Saka atau 1043 M

[2] Bedah buku diselenggarakan pada Senin, 15 November 2010 di Universitas Airlangga, Surabaya. Selengkapnya, lihat Ninie Susanti, Airlangga: Biografi Raja Pembaru Jawa Abad XI, (Jakarta: Komunitas Bambu, 2010).

[3] Sebaran prasasti yaitu: 2 di Kecamatan Lamongan, 2 di Mantup, 7 di Modo, 8 di Ngimbang, 9 di Sambeng, 6 di Bluluk, 2 di Sugio, 1 di Deket, 1 di Turi, 1di Sukodadi, 1 di Babat, 1 di Brondong, 2di Paciran. Prasasti berasal dari zaman Raja Hayam Wuruk (1350-1389) dan Wikramawhardana (1389-1429),  ditulis dalam huruf  Jawa kuno dan telah di transkrip oleh Dr. Callenfels dalam  OV.1917,1918, dan 1919 dan disimpan di Musium Nasional Jakarta.

[4] Status swatantra atau daerah otonom Biluluk dan Tanggulunan menjelaskan bahwa pola pemerintahan Majapahit bersifat teritorial desentralistik.

[5] Swantantra Tenggulunan kini menjadi desa Tenggulun Kecamatan Solokuro Lamongan. Desa ini terkenal hingga mancanegara saat Amrozi CS yang berasal dari Tenggulun menjadi tersangka kasus bom Bali tahun 2002.

[6] Kata Sendang diambil dari sebutan sebuah ‘padusan’ atau kolam mandi di lembah atau bagian lebak bukit Amintuno. Menyebut Desa Sendang di kawasan pantai utara Paciran Lamongan ini mengacu pada desa Sendangagung dan desa Sendangduwur atau Sendang Komplek. Desa Sendangagung atau Sendanglebak terletak di bagian bawah bukit, ditandai dengan kolam pemandian besar, diapit masjid hijau dan biru serta kantor pemerintah desa. Adapun desa Sendangduwur berada di kawasan puncak bukit Amintuno, ditandai dengan sebuah masjid bersejarah dengan gapura bentar dan paduraksa garuda peninggalan Sunan Sendang atau Raden Nur Rahmad.

[7] Penjelasan lebih mendalam tentang tempat-tempat di Sendang penulis dapatkan dari Kiai Baqir Hasan dalam silaturahim Hari Raya Idul Fitri 1438 H di rumah penulis.

[8] Berdasarkan naskah Negarakertagama pupuh 78_ 7c (TBS2D, 1998:187-188) disebut empat monumen perabuan Hindu (tunon) bersebelahan dengan pertapaan dan mandala atau pecantrikan yaitu Pacira, Bulwan ((desa Blawi Karangbinangun), Luwanwa ( desa Lawak Ngimbang) dan Klupang (Lopang Kembangbahu). Keempat wanasrama atau mandala tersebut masuk wilayah Lamongan sekarang. Mandala merupakan pusat agama semisal pesantren dengan sub-kultur komunitas para pengrajin seperti pandai besi untuk senjata dan alat pertanian.

 

[9] Tentang desa Sendang, selengkapnya diulas oleh Baqir Hasan Syarqowi dalam: “Sejarah Desa Sendang dan Cerita Rakyatnya, diterbitkan sendiri pada tahun 2016, tidak dijual. Baqir Hasan adalah putra kiai dan pemimpin umat di Sendang yang kiprahnya fenomenal pada tahun 1960-an.

[10] Ibid, hlm.30

[11] Mpu Supa Madrangi adalah suami dari Dewi Rasawulan, adik Sunan Kalijaga. Ia adalah Empu (Ahli keris) kerajaan Majapahit yang hidup di sekitar abad ke 15. Karya karyanya yang termasyhur antara lain Keris Kyai Nagasasra, Kyai Sengkelat dan Kyai Carubuk. Sebelum menikah dengan Dewi Rasawulan, Mpu Supa beragama Hindu kemudian memeluk agama Islam setelah berdialog dengan Sunan Kalijaga.

                [12] Op.Cit, Baqir, hlm.30.

[13] Viddy AD Daery adalah nominator Dirjen Kebudayaan Kemendiknas RI (2015), Pengurus Yayasan Kertagama (Jakarta) yang dipimpin Dr Sri Tardjo Rusdy (keduanya asli Lamongan dan alumni Unair Surabaya) yang memberi perhatian khusus terhadap sejarah Lamongan. Hasil kajiannya dipublikasikan melalui media massa nasional dan jurnal Kertagama.

[14] Keberadaan Tuban tercatat kuat dalam sejarah Majapahit dengan tokoh Ranggalawe, sementara Ketumenggungan Sedayu dibuktikan dari peninggalan Prasasti Karang Bogem yang dibuat masa pemerintahan Raja Majapahit Hayam Wuruk.

 

[15] Lihat selengkapnya dalam trilogi karangan Viddy,  Pendekar Sendang Drajat, (Solo, Penerbit Tiga Serangkai, 2010).

[16] Lihat,Viddy AD Daery, Gajah Mada Islam, (Bandung, Grafindo Books Media, 2013).

[17] Selengkapnya lihat Bagir, Op.Cit. hlm.14.

[18] Selengkapnya lihat, Miftahul Munir, Local Genius dalam Seni Bangunan Makam Komplek Sunan Sendang Lamongan, (Jurnal Budaya, tt).

[19] Lihat, Peninggalan Sejarah dan Kepurbakalaan Makam Islam di Jawa Timur, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Propinsi Jawa Timur,  2003.

About the Author

-

Leave a comment

XHTML: You can use these html tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>