Published On: Kam, Apr 13th, 2017

BUDI PEKERTI, NUSANTARA, DAN PRAMUKA

foto : news.liputan6.com

foto : news.liputan6.com

Oleh : Moh. Wahyu Syafi’ul Mubarok

Secara etimologi budi pekerti terdiri atas dua unsur kata, yaitu budi dan pekerti. Budi dalam bahasa sanskerta berarti kesadaran, pikiran dan kecerdasan. Kata pekerti berarti aktualisasi, penampilan, pelaksanaan, atau perilaku. Dengan demikian budi pekerti berarti kesadaran yang ditampilkan oleh seseorang dalam berprilaku. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (1989) istilah budi pekerti diartikan sebagai tingkah laku, perangai, akhlak dan watak. Budi pekerti dalam bahasa Arab disebut dengan akhlak, dalam kosa kata latin dikenal dengan istilah etika dan dalam bahasa Inggris disebut ethics.

Budi pekerti adalah induk dari segala etika ,tata krama, tata susila, perilaku baik dalam pergaulan, pekerjaan, dan kehidupan sehari-hari. Budi pekerti dapat dibangun melalui beragam cara, salah satunya lewat instrumen pendidikan. Mengingat budi pekerti adalah salah satu produk dari pendidikan karakter yang telah menjadi tema utama dalam dunia pendidikan, hingga dunia berbangsa dan bernegara. Apabila dirunut lebih dalam, antara moral dan karakter keduanya tidak bisa dipisahkan. Karakter merupakan sikap dan kebiasaan seseorang yang memungkinkan dan mempermudah tindakan moral (Jack Corley dan Thomas Philip. 2000). Atau dengan kata lain karakter adalah kualitas moral sesorang.

Pendidikan karakter menjadi penting dan strategis dalam membangun bangsa. Pendidikan karakter dapat dimaknai sebagai pendidikan nilai, budi pekerti, moral, watak, yang bertujuan mengembangkan kemampuan, dan menjadi manusia seutuhnya yang memiliki karakter dalam dimensi hati, pikir, raga, serta rasa dan karsa. Ketiga substansi psikologis tersebut bermuara pada kehidupan moral dan kematangan moral individu. Upaya membangun karakter bangsa sebenarnya sudah dicanangkan sejak awal kemerdekaan. Seokarno sebagai sebagai salah satu pendiri bangsa telah menegaskan pentingnya nation and character  building.

Sejarah yang Panjang

Indonesia merupakan sebuah wilayah kepulauan yang terkenal dengan adat ketimuran semenjak dulu masih bernama Nusantara. Kerendahan hati dan budi pekerti yang luhur seolah – olah menjadi branding nusantara semenjak abad para raja – raja. Baik kerajaan Hindu, Budha, hingga Islam yang telah merangsak ke pulau jawa. Fakta di lapangan telah membuktikan mengenai kehalusan budi pekerti pendahulu kita. Ketika toleransi belum dikenal, namun ruhnya telah ditanam di dalam asimilasi dan akulturasi budaya – budaya baru dengan budaya – budaya lama.

Tak berhenti sampai disitu, di zaman pergolakan dan penjajahan Belanda sampai Jepang. Warga bumi nusantara senantiasa memiliki budi pekerti yang luhur. Walaupun mereka dijajah oleh orang – orang yang berasal dari daerah entah – berantah, diperbudak zaman, mereka tetap tunduk patuh kepada penguasa. Sungguh kerendahan hati yang tulus, memancar dari setiap pribumi nusantara. Eksplorasi kekayaan budi pekerti yang telah diwariskan secara turun temurun berada pada puncaknya ketika bangsa ini menata diri untuk menjadi bangsa yang merdeka dari kungkungan bangsa penjajah.

Untuk menjadi bangsa yang luhur, diperlukan sebuah falsafah dan ideologi bangsa yang mampu untuk merepresentasikan sikap serta keteguhan bangsa Indonesia dalam menghadapi cita – cita sekaligus menahan derasnya arus zaman. Lewat sebuah kelompok bernama PPKI, 3 orang berpikir keras sekaligus berpikir cerdas mewakili aspirasi seluruh pribumi nusantara untuk merumuskan sebuah ideologi bangsa. Lewat buah pemikiran Sukarno, Muh. Yamin, dan Soepomo terbentuklah 5 sila yang kita kenal dengan nama pancasila yang telah menjadi dasar acuan berbangsa dan bernegara hingga detik ini.

Pancasila adalah sebuah prasasti peradaban bangsa Indonesia sebagai saksi sekaligus bukti bahwa bangsa ini yang dulu terkenal seantero dunia dengan nama Nusantara memiliki kekayaan budaya, berbudi pekerti luhur, dan memiliki nilai – nilai kehidupan yang terlalu sempit apabila hanya diwakili oleh 5 buah statemen yang melekat di Pancasila. Itulah mengapa, Nugroho Notosusanto menyimpulkan bahwa Pancasila adalah sumber dari segala sumber, kekayaannya terlalu dalam apabila tidak di eksplorasi, di pelajari, dan di amalkan. Itulah mengapa, Pancasila mampu tetap eksis di tengah dikotomi global.

Pramuka dan Budi Pekerti yang Luhur

Kepramukaan adalah proses pendidikan di luar lingkungan sekolah dan di luar lingkungan keluarga dalam bentuk kegiatan beranekaragam, dilakukan di alam terbuka dengan prinsip dasar kepramukaan dan metode kepramukaan, yang sasaran akhirnya pembentukan watak, akhlak dan budi pekerti luhur. Budi pekerti pun dapat menjadi dasar atau pilar utama dalam membangun kebersamaan, kesetaraan, dan persamaan hak dalam kehidupan sehari-hari dan dalam bermasyarakat.

Sempat terlintas di benak saya mengapa budi pekerti tidak dimasukkan ke dalam dasa dharma dan tri satya pramuka. Sebenarnya, dasa dharma dan tri satya yang menjadi sumpah setia seorang pramuka merupakan esensi yang bermuara kepada budi pekerti. Ini adalah sebuah pertanda bahwa budi pekerti di dalam pramuka apabila di ibaratkan layaknya dua buah sisi mata uang yang tidak akan pernah bisa dipisahkan. Seperti halnya pancasila, budi pekerti dalam pramuka selain sebagai ujung tombak pembangun bangsa yang berbudi pekerti luhur, juga untuk digali dan dipelajari nilai – nilai luhur bangsa ini yang telah menjadi ruh gerakan pramuka Indonesia.

About the Author

-

Leave a comment

XHTML: You can use these html tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>