Published On: Sab, Feb 11th, 2017

DAWET BATIL KHAS SEMEREK, DESA SENDANGAGUNG

WhatsApp Image 2017-02-11 at 06.53.25Sendangagung– Siang itu adem karena langit diliputi mendung namun tidak hujan, angin sepoi-sepoi berhembus dari lautan. Kami (redaksi) pun tiba di “Warung Mbatil”  yang katanya menawarkan rasa khas dawet batil yang berbeda, Jum’at (9/2/2017).

WhatsApp Image 2017-02-11 at 06.53.25(1)Rasa penasaran itu coba ingin kami buktikan sendiri, datang ke warung batil yang masih berada di kawasan Dusun Semerek Desa Sendangagung, tapatnya di pertigaan pereng sebelah selatan Gunung Kendil, sekitar 3 km arah selatan Wisata Bahari Lamongan, melewati jalan alternatif  penghubung wisata religi Sunan Sendang ( Paciran-Sendangduwur ).

WhatsApp Image 2017-02-11 at 06.53.25(5)Sambil menikmati pepohonan jagung yang sudah mulai mau dipanen serta pemandangan pesisir pantura, kami pun memesan 2 mangkok dawet batil pada Kastimi (43), istri Akrom pemilik warung Mbatil tersebut.

WhatsApp Image 2017-02-11 at 06.53.25(4)Sambil menunggu pesanan, kami berbincang dengan Akrom (46), suami Kastimi pemilik warung batil yang masih warga Dusun Semerek, Desa Sendangagung . Ia mengawali perbincangan, cerita profesi awal sebagai Sopir Truck Ongkel, pengangkut batu kapur/ bongkal, kemudian “ banting ster “ membuka warung mbatil.

WhatsApp Image 2017-02-11 at 06.53.25(7)Beberapa menit kemudian, Dawet pesanan kami sudah disajikan di meja tembok permanen beralas plastik coklat.

Kami aduk kuah santan dan “juroh” nya secara perlahan, terlihat kacang hijau, mutiara, cenil hijau, dan beberapa potongan mbatil warna putih dengan ukuran simetris.

WhatsApp Image 2017-02-11 at 06.53.25(2)Kami nikmati sesendok dua sendok terasa betul manisnya gula siwalan. Memang benar kata orang, paduan santan dan manisnya gula siwalan membuat terasa dilidah berbeda. Sangat enak sekali, apalagi diminum saat suasana panas, pasti seger sekali.

Perbincangan pun kami lanjutkan, Akrom menuturkan pertama kali ia mulai membuka usaha warung mbatil ini sekitar bulan September 2016. “ bangun warung ulan 9 tahun 2016 ”, tuturnya.

Ia pun bercerita tentang awal membangun warung sederhana itu, dimana warung tersebut berdiri di atas tanah milik Desa ( Dusun Semerek ) dengan akad Sewa. Warung dengan ukuran 6 m x 5m tersebut ditopang dengan kayu jati diameter ± 5 cm  yang ia beli dari petani hasil penjarangan pohon.

Sementara ini buka pagi hingga sore hari saja, rata-rata kalau hari Juma’at dan hari Minggu bisa terjual sampai 100 mangkok lebih sedangkan hari-hari biasa terjual 70 mangkok lebih. Konsumen ada yang dari Kemantren, Sedayu Lawas, Brondong,Blimbing juga Karanggeneng. Rata-rata mereka berkelompok, pernah juga mereka pesan mabtil untuk acara reoni, ulang tahun, bancaan di warung ini

“ Sementara iki buka awan, anggone rame dino jumat barek minggu, dino jumat karo minggu dawet payu 100 mangkok lebih, gelek sing teko kene wong Kemantren, Sedayu Lawas, Brondong,Blimbing juga Karanggeneng, roto-roto sak group digawe acara reoni,ualng tahun, bancaan ”,  imbuhnya.

Akrom pun menceritakan awal pemilihan menu mbatil, ia ingin menawarkan menu khas yang belum ada di kawasan pantura, karena semua sudah banyak yang jual dawet tapi belum ada dengan khas mbatil .“ asale golek khas sing grung ono  nok kene, jeneng mbatil kan wis khas “, pungkasnya. ( irinz/el)

About the Author

-

Leave a comment

XHTML: You can use these html tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>