Published On: Rab, Jan 11th, 2017

BUNG TONO DAN SANDALNYA

img-20160814-wa0000Syafi’ul Mubarok
(Dimuat di Radar Bojonegoro, 07 Agustus 2016)

Usianya kira – kira sekitar 45 tahun an, namun semangat untuk menempuh kehidupan tidak usah dibayangkan. Namanya Sutono, namun penduduk sekitar lebih memilih untuk memanggilnya Tono saja. Namun ada pula komunitas tertentu yang memangilnya bung Tono. Entah mengapa aku pun tidak sepenuhnya mengerti. Yang pasti, itu diakibatkan oleh kebiasaannya ikut nimbrung pertandingan bola.

Mungkin karena sudah kebiasaan, ia tidak pernah absen ketika ada nonton bareng di warungnya mang Komar. Bila di stasiun TV punya komentator yang lihai berbicara, maka kampung kami pun punya juru komentator yang lebih dahsyat bicaranya. Cukup diberi segelas kopi dan sepiring kacang, bung Tono akan mengoceh berjam – jam entah mengenai sepak bola di negeri ini, hingga merembet ke isu politik yang tak jelas teorinya.

Anehnya, pengunjung warung justru tertarik dengan ocehan bung Tono. Mang Komar bilang, omset warung miliknya meningkat pesat semenjak bung Tono menggelar karpet bicara di gubuk sederhananya. Apalagi ketika ada even bola di TV, para warga berduyun – duyun menuju warung sempitnya. Padahal TV milik mang Komar hanyalah sebatas TV tabung hitam putih peninggalan zaman orde baru.

Walaupun nantinya siaran yang diterima kabur, para penonton tidak peduli. Karena mereka lebih tertarik dengan ocehan bung Tono. Bahkan ketika pertandingan sudah berlangsung, komentar bung Tono lebih didengar oleh para warga dari pada suara komentator TV yang mana menyerupai gesekan alumunium ketika keluar dari TV nya mang Komar.

Mungkin karena itulah satu kampung kompak memanggilnya dengan gelar Bung. Hal tersebut berhubungan dengan komentator – komentator bola di TV yang biasa dipanggil dengan sebutan Bung. Tidak hanya di warungnya mang Komar, bung Tono juga menggelar karpet bicaranya di lapangan bola betulan.

Terakhir kali ia berbicara di lapangan adalah ketika even tarkam agustusan. Penonton berjubel untuk mendengarkan ocehan bung Tono. Imbasnya, panitia penyelenggara kebanjiran orderan tiket yang melebihi kapasitas. Padahal hanya sebatas lapangan pinggir kampung tanpa ada tribunnya.

Daya tarik bung Tono memang benar – benar tidak ada duanya. Walaupun para pemain bola tarkam berhasil  mencetak gol dengan sangat indah, belum tentu seluruh penonton bergemuruh. Kecuali jika bung Tono menjadi sang komentator. Pernah suatu ketika bung Tono sakit flu dan tidak hadir, akhirnya atmosfer pertandingan pun sangat sunyi layaknya pantai utara di kala malam.

Kondisi terbaru dari bung Tono, bahwasanya ia tengah ditempel oleh beberapa perusahaan judi bola sebelum digelarnya even piala eropa dan copa amerika di TV. Jangan ditebak bila bung Tono akan menjadi bagian marketing untuk mempopulerkan judi bola. Ada keahlian lain yang dimiliki oleh bung Tono yaitu menebak skor sepak bola.

“Ah masa”, kerumunan itu berbicara serempak ketika mendengar cerita dari mang Komar mengenai keahlian bung Tono yang satu ini. Berkali – kali mang Komar meyakinkan pelanggannya, berkali – kali pula ia mendapat hujatan. Akhirnya bung Tono pun ditantang satu kampung untuk membuktikan keahliannya.

Seperti biasa, bung Tono datang lebih lambat dibandingkan pendengar – pendengar setianya. Dengan berpakaian ala kadarnya, ia berjalan pelan beralaskan sandal jepit tahun 70 an. Ketika sampai di warung mang Komar, pendengarnya berlipat ganda. Ada yang sekedar ingin mendengarkan ocehannya, namun ada juga yang membuktikan kemampuan tersembunyi bung Tono.

“Bung, berapa skor akhir pertandingan nanti ?”, tanya mang Komar pelan sembari menyodorkan segelas kopi dan sepiring kacang. Sejenak ia memejamkan mata sembari mengucap, “3-0 untuk Leicester City, Mahrez 2 gol di menit 36 dan 49, di tutup Vardy di menit 78”. Seluruh pengunjung warung mang Komar pun tertegun sejenak kemudian serempak mereka tertawa terbahak – bahak.

Banyak yang tidak percaya, bagaimana bisa tim sebesar Chelsea dikalahkan sama tim promosi. Namun, seiring menit pertandingan yang terus berjalan tawa tersebut berganti menjadi kebengongan dan kebisuan. Prediksi dari bung Tono seratus persen akurat. Hal ini pun membuat agen perusahaan judi bola yang menawari bung Tono tempo hari kembali melakukan pendekatan.

Seusia pertandingan, seisi warung mang Komar pun penasaran bagaimana bung Tono bisa mendapatkan keahlian super langka tersebut. Seperti biasa ia pun mulai bercerita. Bermula dari kunjungannya ke kebun neneknya di senja mendung hingga akhirnya ia tersambar petir. Ia mengaku di otaknya penuh dengan visualisasi masa depan. Agak sinting ceritanya namun benar adanya.

Mengenai tawaran agen tadi, bung Tono langsung menerimanya padahal banyak agen serupa yang berakhir dengan senyum kecut. Mungkin penyebabnya adalah hadiah sepeda gunung yang dijanjikan agen tersebut setelah bung Tono bersedia hadir di kantornya. Menjadi rahasia umum di kampung bahwa ia adalah orang tua yang berkeinginan untuk bersepeda gunung dengan sandal pabrikan 70 an yang telah copot berkali – kali.

Pasti si agen berhasil menyumpal mulut orang – orang kampung yang memberitahu info langka tersebut. Benar – benar agen yang cerdik. Tidak hanya itu, ia pun diberi tuxedo lengkap dengan sepatu mengkilatnya secara cuma – cuma. Para pendengarnya di warung lengkap dengan mang Komarnya pun iri dengan hadiah gratis yang ia dapat.

Esoknya bung Tono langsung datang ke alamat yang telah diberikan oleh si agen. Bila dipandang sepintas, bung Tono sudah mirip orang – orang perusahaan. Hanya saja yang membuat kurang adalah alas kaki yang ia pakai. Bung Tono lebih memilih untuk mengenakan sandal bau tai kucingnya dari pada sepasang sepatu mengkilat.

Hal ini pun membuatnya tidak bisa masuk ke perusahaan sesuai dengan alamat yang diberikan. Pak satpam tetap menahannya di pintu gerbang walaupun bung Tono sudah menggelar karpet bicaranya di sana. Yang menjadi sebuah pertanyaan adalah bagaimana ia bisa mengoceh layaknya komentator bola walaupun tidak ada segelas kopi dan sepiring kacang dari mang Komar.

Barangkali pak satpam tidak mengerti bahwa bung Tono adalah tamu penting perusahaan itu. Itulah realitanya ketika kebanyakan manusia hanya memandang secara fisik belaka tanpa mendengar dan melihat kemampuan sebenarnya. Akhirnya ocehan bung Tono ditutup dengan pukulan yang bertajuk usiran hingga membuat benjolan muncul di bahu bung Tono. Sungguh malang.

Pendengar setia bung Tono yang kebetulan mangkal di warung begitu pula dengan mang Komar pun bingung mengenai apa yang tengah mereka pandang. Dengan memegangi bahunya yang benjol, bung Tono melangkah pelan menuju warung mang Komar. Tak ada pertanyaan hingga ia sampai.

“Kenapa bung ?”. “Di usir sama satpam”, ucapnya pelan. Beragam reaksi pun mengemuka di warung tersebut. “Lagian siapa suruh ke perusahaan pakai sandal”. “Butut lagi”, tambah mang Komar. Tawa renyah mengejek pun kembali hadir di warung tersebut. Kopi pesanan bung Tono pun hadir di depannya.

“Kenapa sih bung kok cinta banget sama sandalnya ?”. Hening sejenak sementara bung Tono menyeruput kopinya. “Kamu tahu, sepatu raja Fir’au yang berkilau emas permata kini berada di neraka sementara sandal jepit Bilal bin Rabbah terdengar di surga”. Seisi warung itu tak tahu, apakah itu adalah benar adanya atau sebatas karangan dari bung Tono setelah digebuk oleh satpam.

About the Author

-

Leave a comment

XHTML: You can use these html tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>