Published On: Kam, Sep 1st, 2016

HARAPAN ITU MASIH ADA

Harapan itu Masih AdaOleh : Syafi’ul Mubarok

Suasana sore cerah menemaniku duduk santai di depan stadion nasional My Dinh, 3 km ke arah barat dari pusat kota Hanoi, Vietnam atau tepatnya di distrik Tu Liem. Aku sedang duduk dibawah pohon rindang di depan stadion itu guna menunggu laga piala AFF 2014 antara Indonesia dengan Filipina. Pertandingan tersebut merupakan pertandingan yang sangat penting bagi Indonesia dan harus bisa dimenangkan untuk menjaga asa lolos ke babak selanjutnya.

Stadion itu merupakan salah satu stadion kebanggaan masyarakat Vietnam. Dibangun pada tahun 2002, dengan kapasitas penonton mencapai 40.000 kursi, memiliki lapangan sepak bola dan lintasan atletik standar Internasional, maka sudah pantas jika stadion ini masuk kategori megah dan layak untuk pertandingan sepak bola berskala internasional.

Bayangan lampu depan stadion pun mulai memanjang, matahari terlihat lebih hangat dan loket depan stadion pun mulai dipenuhi oleh kerumunan orang. Mereka datang dengan pernak – pernik dominan warna biru, dan tak lupa kaos berwarna biru dengan tulisan Filipina di dada. “Wah pasti ini supporter dari Filipina”, gumamku dalam hati. Tak lama kemudian datanglah gerombolan orang dengan mengenakan baju berwarna merah dengan lambang garuda di dada dengan menyanyikan yel – yel supporter yang memecahkan keheningan sore itu di depan stadion, karena pertandingan masih akan dimulai 1 jam lagi.

Aku pun masih belum beranjak dari kursi dudukku sembari membaca Gulliver Travels karya Jonathan Swift, walaupun keadaan yang dulunya sunyi senyap sudah mulia ramai akibat berdatangannya para penonton yang akan melihat pertandingan ini. Hingga seseorang memecah konsentrasiku sembari duduk di sampingku. “Nggak masuk Mas?”, tanya orang tersebut dengan logat sunda. Aku pun langsung menoleh sembari melihat jam dan tersenyum kepadanya. “Nanti aja Mas, masih 20 menit lagi”, jawabku sambil menutup buku bacaanku. 10 menit berlalu aku habiskan untuk berkenalan dengannya, hingga bus berwarna biru yang mengangkut para pemain Filipina melintas di jalanan dan masuk ke stadion.

Namanya Ryan, dia adalah seorang mahasiswa Universitas Indonesia yang merelakan studinya untuk beberapa hari dengan jauh – jauh datang dari Indonesia ke Hanoi untuk melihat pertandingan antara Filipina dengan Indonesia. Ketika di tanya alasan apa yang membuatnya begitu bersemangat, ia bertutur bahwasanya kita sebagai bangsa Indonesia sudah terlalu lama dahaga dengan gelar juara terutama di kawasan Asia Tenggara, sehingga harus ada support yang lebih kepada timnas agar terwujud mimpi tersebut.

“Selama di Vietnam tinggal di mana Mas?”, tanyanya kepadaku. “Saya tinggal di Apartemen teman saya di daerah Phu Do kira – kira 500 meter dari My Dinh”, jelasku. “Kalau Mas sendiri tinggal di mana?, tanyaku balik. “Oh, saya tinggal di rumah sepupu saya di daerah Mai Dich kira – kira 1 km dari sini”, jelasnya sembari melihat keadaan sekitar. “Lumayan jauh ya”, tambahku. Dia pun hanya mengangguk setuju. “Sebaiknya kita segera masuk ke stadion mengingat 15 menit lagi pertandingan akan dimulai”, jelasnya. Kami pun segera menuju loket untuk membeli tiket yang keadaannya sudah tidak seramai tadi. Bus dari para pemain timnas Indonesia pun sudah masuk ke stadion ketika kami sedang menunggu antrian.

Setelah berkutat cukup lama di depan loket yang cat warnanya sudah mulai memudar dengan ditempeli beraneka pernak – pernik timnas Vietnam, kami pun melangkah menuju tribun barat yang terlihat cukup lengang, hanya terlihat beberapa polisi yang berjaga dengan santai. “Disiplin sekali ya, orang – orang di sini”, gumamnya kepadaku disela – sela perjalanan menaiki tangga. “Memangnya kenapa?”, tanyaku kepadanya. “Sepanjang mataku memandang, hanya terlihat siluet tembok berwarna putih bersih tanpa ada coretan di sana – sini, berbanding terbalik dengan kondisi mayoritas stadion – stadion di Indonesia”, jawabnya dengan nada menggerutu. Aku pun hanya mengangguk tanda setuju. Terlihat konstruksi dinding penyokong dari stadion itu sangatlah kuat, sekuat keyakinan teman perjalananku yang sangat yakin bahwa timnas Indonesia akan memetik kemenangan pada pertandingan kali ini.

Akhirnya kami pun sampai di dalam stadion. Warna merah darah menghiasi tribun barat tempat kami berpijak, di ujung utara berisik dengan yel – yel supporter dari tim Filipina yang tengah menyemangati pemain yang sedang melakukan pemanasan, serta beberapa pedagang asongan yang lalu lalang menjajakan barang dagangannya, menjadi sebuah salam sambutan bagi kami. Dengan bola mataku, aku melihat karpet hijau terbentang luas, berkilauan akibat sinar mentari sore yang menyusup diantara 2 celah di atas stadion My Dinh, serta barisan kursi yang berjejer rapi berwarnakan orange, khas bendera Vietnam. Tiba – tiba tarikan lengan dari temanku membuatku melangkah mengikutinya, menyusuri bagian tribun barat hingga sampai ke tempat duduk kami, berkumpul dengan supporter Indonesia yang tak henti – hentinya menyuarakan yel – yel kemenangan.

Suasana stadion yang semula ramai dan berisik berangsur – angsur mereda, mengingat kedua kesebelasan telah memasuki lapangan dengan didahului oleh wasit, bendera kuning fair play, serta bendera dari kedua negara. Timnas Garuda terlihat gagah dengan balutan jersey merah yang dinahkodai oleh kapten tim, Firman Utina. Sayup – sayup lagu Indonesia raya berkumandang khidmat di dalam stadion My Dinh, membuat hatiku sedikit bergetar. Tak berbeda jauh denganku, Ryan pun juga tenggelam dalam lautan keheningan hingga tak terasa air matanya menetes membasahi pipi. “Mungkin inilah rasa nasionalisme sebenarnya, bukan seperti para pejabat pemerintahan yang hanya mengaku cinta negeri namun malah membuat malu bumi pertiwi”, gumamku dalam hati.

Lagu kebangsaan dari kedua negara telah dikumandangkan, di ikuti dengan jabat tangan hangat dari kedua kesebelasan. Terlihat dari tempat dudukku, beberapa pemain timnas Indonesia sedang berdoa untuk mendapatkan hasil terbaik pada pertandingan kali ini di bawah langit cerah dengan gumpalan awan putih yang bergerak berdampingan di atas stadion My Dinh. Sembari menunggu pluit dari wasit, aku pun memandang ke sekeliling hingga mendapati Ryan berdoa sembari memejamkan mata dengan khusyu’ berharap Indonesia berhasil mengalahkan Filipina pada sore itu. Serta buku Gulliver Travel ku yang tergeletak sendirian, termenung bosan di bangku stadion disampingku, berharap jemariku kembali menyentuh, membuka, dan menjelajahi tiap lembar darinya.

Suara pluit wasit pun memecah suasana, tertanda pertandingan telah dimulai. Sorak sorai dari pendukung kedua kesebelasan menjadi suasana pembeda pada sore itu. Nyanyian “garuda di dadaku” tak henti – hentinya mengaum dari tribun barat tempatku berada, seakan tak mau kalah, supporter timnas Filipina pun berteriak – teriak memberi dukungan kepada para pemain Filipina yang terlihat kewalahan menghadapi gempuran bertubi – tubi dari timnas Garuda. Berkali – kali pula teman seperjalananku, Ryan terlonjak dari tempat duduknya ketika tendangan kapten tim Firman Utina hanya menghantam tiang gawang yang berwarna putih berkilau akibat cahaya matahari sore.

Pada menit ke 16, kami dari tribun barat tertegun melihat jala Indonesia dirobek oleh pemain Filipina lewat tendangan pinalti Philips Young Husband, seorang pemain yang tinggi dan berparas tampan bak artis korea. Skor pun berubah 1-0 untuk Filipina. Nampak kebosanan mulai menghinggapi tiap wajah dari tribun barat, termasuk di dalamnya aku yang juga mulai bosan dengan permainan timnas kala itu. Hingga jeda babak pertama, skor pun masih tetap untuk keunggulan Filipina. Raut sedikit kecewa pun terpampang jelas disetiap wajah pemain timnas ketika keluar lapangan. Terutama bagi Firman Utina yang melakukan pelanggaran sehingga berbuah pinalti.

Aku pun kembali menjamah buku ku yang telah kucampakkan sedari tadi. Sembari mendengarkan celotehan dari Ryan yang sangat yakin bahwasanya Garuda pasti akan terbang tinggi dan membalikkan keadaan di babak kedua, aku malah semakin tenggelam pada buku bacaanku dengan sesekali mengangguk sebagai tanda setuju atas pernyataan yang dilontarkan oleh Ryan. 10 menit berlalu, seakan ada suatu semangat baru yang hadir di tribun barat, kami pun berdiri memberikan tepukan tangan penyemangat bagi timnas garuda yang kembali memasuki lapangan.

Terlihat meyakinkan di awal babak kedua, aku pun menutup buku ku dan mengalihkan pandangan ke lapangan hijau. Suara – suara dukungan pun mengalir deras dari tempatku berada hingga menit ke 73. Namun yel – yel kemenangan seakan hilang dari tribun barat ketika jala Kurnia Mega kembali dirobek pemain Filipina 3 gol secara beruntun, sehingga membuat kedudukan 4-0 untuk Filipina. Cuaca seakan berubah dengan cepat, awan – awan kelabu pun berkumpul di atas stadion tertiup oleh angin musim hujan yang dingin, seakan itulah cerminan dari keadaan teman – temanku dari supporter Indonesia kala itu. Nampak raut kesedihan tergambar jelas dari setiap orang di tribun barat, terutama Ryan yang sudah tidak bisa menjaga air matanya untuk tidak menetes membasahi pipi. Aku pun mendekatinya dengan ditemani angin musim hujan yang menerpa wajahku sejuk. Aku duduk disampingnya, kemudian mencoba menenangkannya. “Masih ada 15 menit lagi”, bisikku pelan. Dia pun menoleh dan menyeka air matanya yang berjatuhan sembari kembali memandang ke lapangan hijau. Nampak tribun barat berangsur – angsur kosong hingga akhirnya hanya ada aku dan Ryan.

Hujan pun akhirnya turun membasahi setiap petak dari rumput lapangan dan setiap jengkal stadion My Dinh. Ryan pun kembali menitikkan air matanya ketika melihat permainan timnas yang tidak jelas arahnya dan ditambah diusirnya salah seorang pemain Indonesia akibat permainan kasar di tengah hujan yang semakin deras. Aku pun larut dalam suasana kelabu stadion My Dinh, tak terasa air mataku membanjiri setiap senti dari pipiku, sama seperti Ryan kala itu. Akhirnya pluit akhir pun berbunyi, kesedihan pun melanda setiap pemain dari timnas Indonesia. Firman Utina, selaku kapten melemparkan maaf dengan tangannya ke tribun barat di tengah – tengah derasnya hujan.

Aku pun berdiri dari tempat dudukku, memandang ke lapangan untuk yang terakhir kali, dan berucap ditengah – tengah derasnya hujan angin yang menerpa wajahku basah. “Biarlah garuda terkapar hari ini, namun hari esok garuda akan bangkit lagi dan lagi, hingga dapat merengkuh gelar bergengsi untuk ibu pertiwi. Dan aku yakin harapan itu masih ada, masih hidup disetiap lubuk hatiku, Ryan, dan jutaan rakyat Indonesia”.

About the Author

-

Leave a comment

XHTML: You can use these html tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>