Published On: Rab, Agu 31st, 2016

MANUSIA AKSARA

Manusia Aksaraoleh ; Syafi’ul Mubarok

Pembuluh venaku pecah ketika sebuah batu lancip seukuran buah kelengkeng dengan diameter sekitar 3 cm menghantam jempol kaki ku. Aku pun mengaduh kesakitan sembari mengagumi sudut elevasi dari batu dengan efektifnya berhasil merobek jaringan epidermisku hingga menjejalkan dirinya pada kulitku. Dari mana datangnya, aku pun belum mencari tahu.

Aku terus berjalan menyusuri lapangan yang agak terganggu keindahannya akibat proyek pembangunan yang terus bertahan. Tentunya dengan cara terpincang – pincang dengan modal sandal jepit putih yang kini telah dibasahi oleh warna merah. Aku pun sedikit merasakan getaran pada pembuluh darahku akibat jaringan Trombosit yang telah pecah guna melakukan reaksi pembekuan darah.

Saat itu telah memasuki masa Ghurub, atau orang – orang Jawa biasa bilang adalah surub. Dimana matahari telah lelah dengan harinya, bersembunyi di balik cakrawala semu berselimut senja, sebagai tanda pergantian shift kerja di langit yang kini digantikan oleh bulan sabit berumur 7 hari. “Apa karena surub ?”, gumamku menerka – nerka bagaimana bisa sebuah batu melayang dengan sempurna menghantam jempol kaki ku.

Kembali orang – orang Jawa bilang, saat surub merupakan saat yang paling riskan bagi umat manusia. Anak – anak kecil dilarang bermain ketika ufuk jingga telah datang bertemankan adzan. Entah karena apa tidak dibolehkan, alasan utama mereka adalah terlalu banyak keganjilan yang terjadi pada saat itu. Dan contoh kecilnya telah menimpaku.

“Omong kosong, mungkin orang Jawa yang terkenal filosofis itu hanya mengarang cerita agar para manusia yang belum mengerti apa – apa tidak mengotori kesucian senja, momen ketika Allah memasukkan malam kepada siang”. Di dalam otak ku seakan terjadi perang saudara utamanya antara lobus oksipitalis yang membawahi memori, dengan lobus frontalis yang mengedepankan logika dan matematika.

Dan ini adalah momen pertamaku melawan senja, akibat pulang terlalu larut setelah bimbingan belajar UN. Andai saja teman – temanku tidak bertingkah agak manja dengan gurunya mungkin aku tidak perlu meniti sendiri jalan ketika ghurub. Semakin aku memikirkannya, maka semakin aneh pula kondisi tubuhku. Ya, seseorang telah meniupkan sedikit rasa takut ke dalam hati dan pikiran ini.

Sel protombin telah berhasil sepenuhnya menyumpal pembuluh darahku agar tidak keluar, di ikuti dengan riak – riak warna merah yang mengotori jempol ku. Walaupun demikian, aku tetap merasakan kesakitan akibat terpapar udara aneh saat senja. Dan hal yang membuatku paling tidak suka adalah kerumunan bambu di saat senja. Memang ketika siang menjelang mereka seakan menjadi tempat bernaung yang sempurna bagi para musafir. Lain cerita bila hal itu dikaitkan dengan senja.

Cerita – cerita karangan mendekati kebenaran keluar masuk otak ku ketika aku harus melewati barisan bambu yang seakan – akan menjadi mimpi buruk bagiku. Aku berhenti sejenak mengamati mereka. Tidak ada senyuman, hanya sebatas keheningan yang mencekam. Kebenaran dan khayalan mulai mengacak – acak pikiranku. Tiba – tiba saja mereka bergerak seakan ditiup oleh angin, padahal hanya kekosongan yang kurasakan.

Aku menarik napas panjang sembari meraih bulpoin serta secarik kertas dari dalam tasku. Bukan tanpa maksud, sengaja aku ingin membuktikan kepada tubuhku yang tengah terganggu takhayul bahwa ada penjelasan dibalik setiap kejadian. Tanganku mulai beradu dengan pena serta kertas sementara bola mataku sesekali melihat ke bambu – bambu yang seakan menyeringai ke arahku.

“Tidak mungkin”, teriakku dalam hati di ikuti dengan kegugupan yang tiba – tiba hadir. Aku mencoba menganalisa perbandingan momen inersia terhadap panjang bambu, ditambah besaran partikel – partikel angin yang mencoba menumbuk batang bambu. Aku kembali menelusuri angka – angka taksiran hitungan di atas kertas putih itu yang seakan bersembunyi di balik temaramnya senja. Semakin aku melihatnya, semakin gugup pula aku dibuatnya.

Angin tiba – tiba saja datang dan menerpa kertas coretanku, di ikuti dengan bergeraknya batang – batang bambu yang seakan ingin menimpaku. Hatiku berteriak sangat keras, di ikuti dengan saraf – saraf motorik yang menggerakkan rangkaku untuk berlari melawan angin. Hormon adrenalinku naik turun, 100 meter darinya aku menahan lelah. “Mana mungkin 10 Newton digerakkan oleh 0,5 m/s”, keluhku pasrah.

Sembari menahan lelah, bola mataku menangkap sebuah rumah di ujung jalan. Rumah kayu tua yang kabarnya dihuni oleh seseorang laki – laki lanjut usia bernama mbah Prapto. Ia tinggal sendirian setidaknya mulai 4 tahun yang lalu, ketika anak satu – satunya ditelan oleh ombak di laut utara. Semenjak kejadian itu, ia menjadi orang yang menutup diri. Jangankan mengunjungi, lewat di depan rumahnya pun orang hanya berani ketika siang hari dengan syarat lebih dari 3 orang.

Dan kini, aku harus lewat sendirian di depan rumanya di saat ghurub pula. Hormon adrenalinku kembali menyala, memberi andil kepada keluarnya butiran – butiran keringat kegugupan yang dingin akibat terpapar hawa senja. Aku pun teringat dengan sebutan kakakku tentang orang itu, ia memberi nama manusia aksara. Walaupun menutup diri, ia tetap produktif dengan menelurkan cerita – cerita dari pikirannya.

Bukan hanya sebatas cerita – cerita bergaya sinetron Indonesia, tetapi lebih dari itu. Dan kabarnya cerita pendek yang ia buat memiliki aura berbeda di kalangan pembaca. Sehingga tak ayal bila koran – koran lokal berebut untuk memuat karyanya. Walaupun demikian, suasana misterius tetap menyelimuti cerita – ceritanya seperti halnya hidupnya. Terakhir, ia membuat remaja kampung sebelah gila setelah membacanya begitu pula dengan koran lokal yang menerbitkan karyanya pun harus gulung tikar tanpa ada sebab yang jelas.

Aku mengumpat otakku, utamanya bagian lobus oksipitalis yang telah membiarkan memori tentang orang itu terbuka di saat yang kurang tepat. Semakin mendekati rumah dengan cahaya temaram lampu 5 watt itu, semakin berat pula jari – jari kakiku. Kakak ku pun juga pernah bilang, kata – kata yang ia hasilkan dalam ceritanya seakan mampu berbicara dan mempengaruhi siapa yang membacanya. Sekali lagi aku memaki, mengapa memori itu datang lagi.

Kini aku sudah beberapa meter lagi dari tempat itu, sementara hawa dingin terus – terusan menusuk tulangku. Ku pandang jam tangan biru tua yang melingkar di lenganku, 1 menit yang lalu iqomah terakhir telah dikumandangkan. Kini senja benar – benar mencekam. Hanya ada aku, rumah itu, dan jalan pulang. Aku terus melangkah pelan, dengan mencoba memendam ketakutan. Kedua jendela beserta pintu dengan arsitektur Jawa kuno telah masuk ke retina mataku.

Hatiku tiba – tiba saja mencelos, kaget bukan main. Telingaku seakan ingin melompat keluar ketika mendengar suara pekikan dari dalam rumah itu, di tengah keheningan senja. Tanpa pikir panjang, aku mencoba membekap rasa takutku untuk mencari tahu apa sebenarnya yang terjadi. Karena rasa penasaran itu lebih mengganggu dari pada sekelompok lebah yang mendengung atau mesin diesel yang menderu.

Aku menengok ke kiri dan ke kanan, sepi. Kaki ku langsung ku langkahkan ke beranda rumah, dan mungkin senja kali ini akan mencatat bahwa aku lah manusia pertama yang menginjakkan kaki di bagian kecil rumah itu, sendiri, dan ketika malam menjelang. Gugup, tidak. Tubuhku hanya sedikit bergetar akibat hormon adrenalin yang kini mengacak – acak urat sarafku.

Bola mataku menangkap sebuah kurva permintaan dan penawaran di zaman orde baru yang telah lusuh tertempel di depan rumahnya. “Mungkin ia masih teringat dengan zamannya Pak Harto”, gumamku menghibur diri. Di dekatnya, terdapat sebuah sketsa wajah perempuan bekas coretan kapur entah tahun berapa ia membuatnya. Kembali aku menduga, mungkin itu adalah istri tercintanya. Kemudian, aku mencoba mengintip lewat celah rumah.

Tidak hanya sosok laki – laki tua dengan jenggot tebal saja yang tengah duduk di sebuah meja kuno. Di sekelilingnya, huruf – huruf yang mirip aksara Jawa membantu membisikkan kata – kata ke telinganya. Aku terus mengucek – ucek mataku, apakah ini benar sebuah realita atau hanya sebatas ilusi. Yang pasti saat itu, ketakutan telah berkuasa di dalam tubuhku. Aku ingin secepatnya meninggalkan tempat itu.

Ketika aku hendak melangkah pergi, jam tanganku tiba – tiba saja lepas dari tanganku dan jatuh di depan pintu. Dengan gugup, aku duduk mengambil jam itu. Tubuhku bergetar ketika decitan pintu itu mengiang di telingaku. Muncul di baliknya, siluet hitam manusia aksara dengan senyum menyeringai di wajanya. Yang terakhir aku lihat, kilatan pisau dari huruf – huruf  aksara yang muncul di baliknya sembari mendekatiku.

About the Author

-

Leave a comment

XHTML: You can use these html tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>