Published On: Jum, Agu 12th, 2016

JERAWAT SANTRI

Jerawat SantriSyafi’ul Mubarok

Entah sejak kapan aku mengenalnya. Kalau ingatanku tidak salah sekitar 6 tahun yang lalu. Ketika aku bertemu dengannya, ia masih anak – anak dengan nama Muqoddar. Nama yang cocok untuk menjadi bagian dari sebuah pondok. Sebenarnya ia sudah berumur 10 tahun kala itu, namun karena posturnya yang kelewat kecil aku sendiri lebih nyaman menyebutnya sebagai anak – anak.

Pertemuan kami pun tidak berjalan mengenakkan. Aku memandangnya masuk ke ruang konveksi dengan berpegang erat pada tangan ibunya. Senyuman hangat yang merekah di bibir petugas konveksi hanya dibalas dingin oleh tatapan penuh kesedihan olehnya. Aku pun tak terlalu heran mengapa ia memilih masuk ke ruangan 15 kali 8 meter yang penuh sesak oleh mesin jahit dan tanpa AC.

Karena semua santri baru pun melakukannya. Belanja keperluan primer maupun sekunder, yang akan menemaninya selama menuntut ilmu di pondok. Ibunya masih berusaha menawar perlengkapan sholat yang tidak sesuai dengan harga standar mereka. Sementara ayahnya—yang tiba – tiba saja muncul di balik pintu—langsung menuju kursi coklat tua untuk menenangkan anaknya yang sedikit rapuh semangatnya.

Mereka semua duduk di ruang pelayanan, yang tak jauh dari posisiku di ujung ruangan. Ia akhirnya memandangku melewati barisan mesin jahit dengan tatapan yang datar. Entah seberapa penuh otaknya saat itu, hingga membuat goresan senyum pun tidak sanggup. Dan aku berani menduga, itu adalah salah satu syndrome santri baru. Tidak ingin meninggalkan kenikmatan yang ada di rumah. Apalagi ia berasal dari daerah pesisir Paciran.

Momen itu akhirnya berakhir setelah ibunya mengeluarkan sejumlah uang yang kemudian di tukar dengan beberapa perlengkapan sholat. Sajadah, baju koko putih, hingga kopyah baru. Mereka bangkit sembari mengucapkan sepatah kata—terima kasih mungkin—kepada petugas konveksi. Tanpa pikir panjang, aku pun langsung mengikutinya.

Di luar—dengan latar yang sama—terjadi perpisahan antara orang tua dan anak. Peluk erat, tumpahan air mata, hingga suasana kerinduan menghiasi setiap sudut area. Begitu pula dengan Muqoddar—aku mengetahui namanya lewat membaca kartu santri baru yang terkalung di lehernya—yang dengan beratnya berusaha melepaskan pelukan kepada ibunya. Pesan – pesan mengalir deras dari mulut ibu serta bapaknya.

Dan momen emosional itu akhirnya usia setelah lantunan ayat suci Al – Qur’an menggema di ujung menara, sementara Muqoddar telah memondong perlengkapan sholat yang telah sepenuhnya ia miliki. Lambaian terakhir ia berikan kepada orang tuanya sembari menitikkan air mata. Dan kini tinggal aku dan dia, setelah bayangan kedua orang tuanya telah tertutup oleh kerumunan santri yang berangkat ke masjid.

Posisi yang kaku terjadi padaku. Ketika bola matanya memandangku. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, ia lebih memilih pergi dengan meninggalkan berjuta tanda tanya dibenakku. Sebenarnya aku ini apa, sampai – sampai ia tidak memberikan sapaan pertemanan. Tapi siapa sangka, kami menjadi teman seperjuangan—setidaknya sampai 6 tahun—di bawah naungan pesantren. Walaupun toh, pertemuan awalnya tidak begitu mengenakkan.

***

Waktu telah mengubah segalanya, begitu pula dengan lingkungan yang juga ikut andil dalam merubah watak serta sikapnya. Awal aku melihatnya, ia hanya sebatas bocah kerdil kurus yang agaknya mengalami masalah dengan pertumbuhannya. Namun kini ia sudah menjelma menjadi santri bertubuh jangkung tetapi tetap kurus. Mungkin kurus telah menjadi ciri khas yang senantiasa ia bawa.

Dan satu lagi yang aku heran. Selama itu pula ia miskin kawan—kecuali aku—seperjuangan. Teman hanya dianggapnya sebagai sebatas teman tanpa ada ikatan emosional yang jelas. Baginya, kekeluargaan menjadi hal yang asing di tengah hingar bingarnya kehidupan pesantren. Pastilah ia sangat kuat menahan kepedihan tanpa ada kawan. Hanya aku yang menjadi kawan bicara setiap harinya. Sebuah kebanggaan sekaligus keanehan.

Hingga suatu ketika ia dililit oleh permasalahan yang tidak jelas pangkal kesalahannya. Tiba – tiba saja bagian kemanan merangsak masuk ke asrama sembari membawa sebilah kayu di tangannya. Kemudian ia bertanya pasal siapa yang bertanggung jawab atas rusaknya kaca jendela di asrama kepada para penghuni lainnya. Dengan serempak, mereka menunjuk ke arah Muqoddar yang tengah duduk sembari mengamati sisi almarinya. Entah apa yang tengah ia pandangi.

Setidaknya itulah yang aku lihat. Diam sejenak menghinggapi bagian keamanan dengan postur yang cukup gempal. Mungkin ia tengah menghayati prinsip demokrasi, bahwa suara terbanyaklah yang menang. Ia pun memutuskan untuk menghujamkan kayu itu ke tubuh Muqoddar. Ia hanya bisa mengaduh kesakitan tanpa ada pembelaan. Sementara aku hanya bisa diam. Sepengetahuanku, kaca itu pecah akibat bola dari tendangan Alfin, ketua asrama ini.

Dari situ, aku belajar satu hal. Sebenar apa pun kita, kalau tidak ada teman di sana, maka hanya kerugian yang akan kita derita. Untuk insiden yang menimpa Muqoddar, aku menyebutnya jerawat santri. Karena santri juga manusia yang bisa bertindak khilaf dan lupa. Setelah kejadian itu, Muqoddar langsung mengajakku ke masjid untuk mengadukan semuanya kepada Allah. Agak kepagian memang, maghrib masih 1 jam lagi begitu pula dengan cahaya jingga yang masih ada di ufuk sana.

Perjalanan ke masjid ternyata mempertemukanku dengan jerawat santri yang lainnya. Biasa disebut dengan akhwat (perempuan). Secara teori, memandang lawan jenis sangatlah riskan bagi para santri. Boleh satu kali, katakanlah itu sebagai rezeki. Namun, teori itu ternyata belum sepenuhnya masuk ke otak Muqoddar. Ia malah memandangi akhwat yang berlalu lalang sepanjang perjalanan. Banyak yang tak peduli, dan tak sedikit pula yang membalas dengan tatapan aneh. Aku mencoba berkali – kali menundukkan pandangannya. Tapi, tangannya malah menghantamku untuk yang kesekian kali. Akhirnya, aku menyerah.

Dari situ akhirnya aku membenci istilah pacaran secara islami. Entah siapa yang memperkenalkan kosa kata multi tafsir itu. Justru hal itu kini menjadi tren tersendiri bagi remaja islam. Jika di analogikan, pacaran secara islami itu seperti boleh mandi, tapi jangan sampai basah.  Intinya adalah sia – sia.

***

Tak terasa kini ia telah berdiri di atas panggung kelulusan berbalutkan jas kebanggaan. Bangga, itulah caraku memandangnya. Berbekal ilmu dari pesantren, ia siap membangun desa pesisirnya menjadi kampung berperadan islami. Toga telah berada di atas kepalanya, menggantikanku yang telah 6 tahun bersamanya. Aku hanya bisa berdoa yang terbaik baginya, karena aku hanya sebatas kopyah yang telah lusuh termakan usia.

About the Author

-

Leave a comment

XHTML: You can use these html tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>