Published On: Sel, Jun 14th, 2016

OPTIMALISASI DESA LEWAT PERPUSTAKAAN

(Refleksi hari buku se dunia)

Oleh : M. Wahyu Syafi’ul Mubarok

Kemarin, tanggal 23 April diperingati sebagai hari buku se dunia. Sementara di Indonesia, peringatan itu telah ada semenjak tahun 2006 atas prakarsa kementrian kebudayaan. Memang sedikit yang tahu pasal hal itu, karena hanya orang – orang yang dekat dengan buku lah yang mengerti dan juga merayakan harinya para kutu buku.

Negara kita memang negara berkembang yang mana tingkat minat bacanya sangat minim. Menurut data statistik dari UNESCO, bahwasanya indeks membaca di Indonesia hanya 0,001. Artinya setiap 1000 penduduk hanya ada satu orang yang tertarik dengan membaca entah itu surat kabar, buku, atau lainnya.

Data itu sangatlah jauh bila kita bandingkan dengan negara maju seperti halnya Jepang. Di sana, setiap 1000 orang hanya sekitar 20 orang yang tidak membaca. Bahkan bila kita menengok ke negara tetangga Singapura, kita pun kalah jauh. Di sana, indeks membaca rakyat Singapura telah mencapai angka 0,8.

Lain halnya dengan data dari UNDP atau United Nations Development Programme. UNDP menyebutkan bahwa angka melek huruf untuk orang dewasa di Indonesia hanya 65,5 persen. Sementara tetangga dekat kita, Malaysia angka melek hurufnya adalah 86,4 persen. Cukup jauh rentangnya untuk skala negara berkembang.

Memang penyebab utama kita jarang sekali membaca adalah karena kurang membiasakan mata kita untuk membaca. Selain hal tersebut, banyak faktor – faktor lain yang menghambat sebuah aktivitas membaca. Mulai dari kesibukan kerja, rumah tangga, sekolah, hingga keluarga. Dan bila istirahat pun kita lebih memilih untuk sekedar menonton acara televisi dari pada membaca sebuah buku.

Hal tersebut memanglah tidak bermasalah bagi orang – orang dewasa. Namun, yang bermasalah adalah anak – anak. Mereka lebih memilih bermain hingga ikut menonton tayangan di televisi dari pada membaca, baik itu buku teks pelajaran maupun buku bacaan. Menurut Badan Pusat Statistik, waktu anak Indonesia yang dihabiskan untuk menonton televisi mencapai 300 menit per hari.

Mari bandingkan dengan anak – anak di negara Australia yang setiap harinya hanya 150 menit. Atau di negara Adidaya Amerika Serikat, yang hanya 100 menit perhari. Hingga yang paling kecil adalah Kanada. Anak – anak disana hanya menghabiskan satu jam saja setiap harinya untuk menonton tayangan – tayangan di televisi.

Sungguh menjadi sebuah PR besar bagi kita semua. Bagaimana cara kita untuk meningkatkan minat baca. Memang awalnya adalah dengan jalan pembiasaan. Seperti halnya seseorang yang telah biasa memakan makanan pedas, maka ia serasa tidak seperti memakan makanan yang pedas.

Begitu pula dengan membaca, jika kita telah terbiasa melahap beragam kata setiap harinya, maka kita akan terbiasa dengan membaca. Namun hal tersebut tidak berguna bila tidak ada fasilitas yang mendukung seperti halnya kelompok baca, taman baca, hingga sebuah perpustakaan.

Desa dan Perpustakaan

Menurut Undang – Undang no. 43 tahun 2007 pasal 23 dijelaskan, bahwa setiap sekolah baik negeri atau pun swasta harus menyisihkan 5 persen dari anggarannya untuk perpustakaan. Baik itu dari belanja operasional atau belanja barang di luar belanja pegawai. Lantas bagaimana dengan perpustakaan di tingkat desa yang juga memiliki anggaran belanja ?.

Karena tidak ada aturan yang jelas mengenai keharusan sebuah desa untuk membangun perpustakaan, maka kita dapat menjumpai sedikit dari desa – desa yang ada di seluruh Indonesia memilih untuk meluangkan sedikit uangnya untuk memajukan desanya lewat sebuah perpustakaan.

Memang cara untuk memajukan sebuah desa sangatlah beragam. Bisa melalui sumber daya manusianya, dan salah satu perwujudannya adalah lewat sebuah perpustakaan. Jika sebuah desa telah memiliki sebuah perpustakaan yang tetap, maka disana kita bisa membangun tradisi keilmuan yang telah lama pudar di tengah masyarakat Indonesia.

Maka dengan sendirinya akan tercipta atmosfer keilmuan pada sebuah desa. Tidak hanya itu, dengan adanya perpustakaan desa bisa membuat sebuah forum yang mengangkat masalah – masalah ekonomi, sosial, hingga kebangsaan. Dan saya kira, bagi para pelajar seperti saya sangatlah terbantu dengan adanya perpustakaan di tingkat desa.

Saya pun sempat kebingungan bila ada tugas – tugas sekolah yang memerlukan sumber referensi yang banyak. Sementara di desa Sendangagung, kecamatan Paciran tempat dimana saya tinggal, tidak memiliki sebuah perpustakaan. Di tingkat kecamatan pun saya tidak menjumpai adanya perpustakaan umum. Dan paling dekat adalah saya harus ke perpustakaan kota di Lamongan.

Memang sekarang zamannya teknologi, mesin pencari di dunia maya sangatlah ampuh untuk menjadikan rujukan segala macam hal. Namun yang patut digaris bawahi adalah, dengan memanfaatkan mesin pencari seperti Google, sama saja dengan menurunkan tingkat keuletan seseorang dalam mencari sebuah informasi yang terkandung dalam buku maupun surat kabar (Mubarok : 2015).

Lebih jauh lagi, para pelajar cenderung lebih dimudahkan dalam hal tugas sekolah. Mereka tinggal mencari di Internet lalu di print out tanpa perlu membaca secara keseluruhan. Hal ini justru menanamkan bibit – bibit ketidak jujuran lewat plagiarisme yang kini sudah ada dimana – mana dan dianggap sebagai sesuatu hal yang biasa, seperti halnya jamur di musim hujan.

Maka dari itu, menjadi sebuah keharusan bagi kita untuk meningkatkan minat baca. Selain karena himpitan arus modernisasi yang sudah tidak terbendung, juga untuk mewujudkan cita – cita mulia bangsa Indonesia di tahun 2022 bahwa seluruh masyarakat Indonesia mampu untuk membaca.

Dan mungkin cita – cita ini hanya sebatas impian belaka bila kita utamanya pemerintah belum peduli terhadap keberadaan perpustakaan. Mungkin gagasan anggota dewan yang ingin membangun gedung perpustakaan bernilai miliaran rupiah untuk menjadi yang termegah di Asia Tenggara perlu untuk dikoreksi.

Lebih baik bila rencana itu dirubah menjadi pembangunan perpustakaan di setiap desa yang ada di seluruh Indonesia. Karena sebuah perpustakaan besar yang terpusat tidak lebih baik dari pada kumpulan perpustakaan sederhana namun tersebar di seluruh desa – desa di Indonesia. Selain untuk meningkatkan minat baca, juga untuk meningkatkan tradisi keilmuan di tingkat desa.

About the Author

-

Leave a comment

XHTML: You can use these html tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>