Published On: Ming, Apr 3rd, 2016

WAHID BASHORI GENERASI KEDUA MBAHDI, PENJUAL LEGEN ASLI SENDANGAGUNG

legen mbahdiSendangagung– Secara alamiah di musim kemarau (keadaan cuaca panas) , umumnya orang lebih banyak mengonsumsi air minum dibanding pada saat musim hujan. Hal ini dikarenakan cairan tubuh banyak keluar dalam bentuk keringat akibat aktivitas keseharian.

Untuk itu tubuh kita secara otomatis membutuhkan cairan dalam jumlah cukup yang ditunjukkan dengan meningkatnya keinginan untuk minum atau upaya mengonsumsi bahan-bahan makanan lain yang banyak mengandung air seperti sayur-mayur dan buah-buahan.

Ketika anda melakukan perjalanan di beberapa daerah di Indonesia, khususnya daerah-daerah yang berada di sepanjang Pesisir Pantai Utara Jawa Timur seperti Lamongan. Di sepanjang jalan beberapa daerah itu anda akan menemukan karunia alam berupa buah dan air nira yang bisa menjadi pelepas dahaga alternatif selain air putih yang anda bawa.

Di Lamongan, tepatnya di barat WBL, sisi sebelah kiri jalan pertigaan kedua menuju arah Desa Sendangagung, anda dapat menjumpai gubuk-gubuk kecil berjajar di kiri-kanan  sepanjang jalan yang menjajakan air nira atau masyarakat sekitar menyebutnya “ legen “. Dengan “ legen “ tersebut bisa membantu rasa haus anda saat perjalanan.

Rasanya yang khas dari sadapan “ wolo” pohan siwalan tersebut sangat adem, apalagi bila anda bisa membedakan mana yang asli dan manakah yang campuran.

legen mbahdi2Dari deretan gubuk tersebut anda bisa menemukan gubuk kecil nomer dua dari selatan sebelum jalan curam milik Wahid Bashori (45) warga Dusun Semerek RT 01 Rw 01 Desa Sendangagung yang sudah mangkal disitu jauh sebelum ada gubuk-gubuk yang lain itu berdiri, kurang lebih sekitar tahun  98-an. Wahid Bashori (45) ini merupakan generasi kedua dari Mbahdi, yang dulu berjualan legen asli dengan “ betek” ( bumbung bambu untuk menyimpan “ legen” ) yang ditaruh secara bergelantungan.

Legen asli yang dijualnya merupakan hasil sadapan masyarakat Dusun Semerek sendiri. Wahid tetap menjaga kwalitas rasanya yang masih original. Kami pun mencoba menyambangi di gubuk jualannya (1/4/2016 ) untuk membuktikan, “ legen” yang kami minum benar-benar legen asli yang turun saat pagi hari, segar dan ada rasa sensasi tersendiri seperti ada rasa soda, istilah orang jawa “ trecep-trecep”. Memang begitulah rasa “ legen” yang asli turun dari pohon siwalan saat pagi hari. Dengan legen satu gelas besar yang cuma Rp. 2.500,- anda bisa menghilangkan dahaga anda saat perjalanan panjang, suegerrrr…….

Bila dilihat dari warna anda jangan terkecoh dengan botol-botol ” legen “ yang bening. ” Legen “ asli selain rasanya seperti yang saya kemukakan tadi, warnanya pun tidak seberapa kental, putih bercampur coklat tapi lebih dominan putihnya, jika dibuka tutup botolnya keluar busa menandakan “ legen “ masih mentah.  Bila sudah agak kecoklatan, berati itu legen yang sudah “ digodok “ untuk menghindari fermentasi yang berlebihan.lha…di Wahid Bashori ini anda masih bisa menemukan legen yang original yang anda cari. (hirin/el)

About the Author

-

Leave a comment

XHTML: You can use these html tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>